Advertisement
BUDAYA- Pagelaran budaya Catur Sagatra merupakan ajang pementasan seni tari yang di tampilkan oleh empat pewaris Kerajaan Mataram Islam di tanah Jawa yakni, Keraton Kasunanan Surakarta, Kesultanan Jogjakarta, Kadipaten Mangkunegaran dan Paku Alaman.
Pagelaran Catur Sagotra tahun ini di gelar pada jumat (28/11)
bertempat di Bangsal Kepatihan Komplek Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
(DIY) dengan mengusung tema “Kalyana: Olah Pikir, Olah Raga, Olah Jiwa”.
Selain menjadi ajang pentas budaya empat pewaris Mataram
Islam, Catur Sagotra juga ruang silaturahmi empat keluarga besar Mataram dalam
rangka menjaga kekerabatan, kebudayaan dan nilai nilai spiritual jawa di antara
mereka.
Para perempuan pimpinan delegasi catur sagotra / Foto : Istimewa
Pada acara pentas budaya Catur Sagotra, Keraton Kasunanan
Surakarta Hadiningrat mengutus GKR Panembahan Timoer menandai tugas pertamanya
sebagai pengageng Sasana Wilapa yang di kukuhkan oleh PB XIV Purbaya. Kehadiran
tersebut menandai peran aktif Keraton Surakarta dalam forum kekerabatan empat
keluarga besar Mataram.
Sementara itu dari Kesultanan Yogyakarta adalah GKR Bendara,
putri Sri Sultan Hamengkubawana X, dari Mangkunegaran GRAj. Ancillasura Marina
Sudjiwo, putri KGPAA Mangkunegara IX. Sedangkan utusan dari Pakualaman adalah,
GKBRAA Paku Alam, permaisuri KGPAA Pakualam X.
Ke empatnya adalah para perempuan bangsawan yang mewakili budaya
keluarga mereka masing masing.
Di sela sela acara Catur Sagotra, GKR Panembahan Timoer
memberikan keterangan, bahwa ajang silaturahmi empat keluarga besar Mataram Islam
ini merupakan ajang penting dalam meneguhkan kembali hubungan kekerabatan antar
istana.
Catur Sagatra ujar GKR Panembahan Timoer bukan sekadar
pertemuan seremonial, namun ruang untuk kembali menyatukan komitmen empat
istana didalam menjaga martabat adat dan budaya Jawa. Tema Kalyana menguatkan,
bahwa warisan Mataram Islam bukan hanya tentang tradisi, tetapi juga tentang
bagaimana kita menata pikir, menata gerak, dan menata jiwa, jelasnya
Kehadiran para delegasi yang di nahkodai para Perempuan lanjut
GKR Panembahan Timoer, membawa makna
mendalam bagi kesinambungan adat.
Hal itu menunjukkan bahwa perempuan dalam tradisi Mataram
Islam, keanggunan bukan hanya simbol tetapi juga memikul amanat budaya. Ada pesan
kuat bahwa kesinambungan adat juga bertumpu pada keteguhan dan welas asih yang
dibawa para Perempuan istana.
GKR Panembahan Timoer sebut, tugasnya kali ini merupakan
kehormatan tersendiri, mengingat langkah
awal ia mengemban tugas setelah menerima dhawuh dari SISKS Pakoe Boewono XIV.
“Ini tugas perdana saya di luar Karaton setelah dikukuhkan
sebagai Pengageng Sasana Wilapa. Saya menjalankannya dengan penuh tanggung
jawab dan harapan semoga kehadiran Karaton Surakarta dapat selalu memberikan
kontribusi nyata dalam memperkuat persaudaraan empat istana, pungkasnya
Terpisah, K.R.T. Tri Harjanto Budayadipura selaku Pangarsa
Beksan Karaton Surakarta menyampaikan, bahwa keberlangsungan Catur Sagotra
adalah bukti kuat budaya Jawa peninggalan dinasti Mataram Islam masih hidup dan
lestari.
Acara Catur Sagatra menjadi penanda bahwa pelestarian budaya
Jawa peninggalan leluhur, terutama dari Dinasti Mataram Islam, masih
berlangsung hingga saat ini. Seperti Beksan Wiryanaranata yang di usung para
penari dari Keraton Kasunanan Surakarta, menjadi pengingat bahwa nilai luhur
itu harus terus dijaga.
Beksan Wiryanaranata diperagakan oleh sembilan penari inti,
terdiri dari empat penari putra dan lima penari putri. Empat penari putra
tersebut melambangkan Catur Murti, empat unsur pembentuk kehidupan, Tanah,
simbol stabilitas; Air, lambang kelembutan; Api, kekuatan energi dan semangat;
dan Angin, simbol transformasi dan keluwesan.
Konsep ini selaras dengan tema “Kalyana”, yang menegaskan
pentingnya keseimbangan antara pikiran, tindakan fisik, dan kejernihan jiwa.
Sebagai pemimpin rombongan Kasunanan Surakarta dalam Catur
Sagotra 2025, KPH Adipati Panembahan Sosronegoro mengatakan makna penting
kegiatan tersebut bagi eksistensi kebudayaan Mataram di tengah arus perubahan
zaman.
Catur Sagatra bukan sekadar pertemuan empat dinasti. Ini
adalah wahana merawat jati diri, menjaga kesinambungan nilai-nilai luhur, dan
memperkuat rasa kekeluargaan di antara sentana dalem lintas istana. Selama
tradisi ini dijalankan, selama itu pula kebudayaan Mataram akan tetap hidup.
Beliau juga menekankan bahwa keterlibatan generasi muda
dalam beksan dan seni tradisi menjadi kunci keberlanjutan budaya.
Kami bersyukur bahwa para penari muda Kasunanan Surakarta
mampu menjiwai Wiryanaranata. Ini tanda bahwa warisan leluhur diteruskan oleh
generasi yang tepat. /
(red/Jk)

