Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement

metrosurakarta
11/30/2025, 11/30/2025 WIB
Last Updated 2025-11-30T04:00:45Z
BudayaMetrokota

Rekatkan Kekerabatan Empat Keluarga Besar Mataram Melalui Pentas Seni Budaya Catur Sagotra

Advertisement
Pegelaran pentas budaya catur sagotra / foto: Istimewa


BUDAYA- Pagelaran budaya Catur Sagatra merupakan ajang pementasan seni tari yang di tampilkan oleh empat pewaris Kerajaan Mataram Islam di tanah Jawa yakni, Keraton Kasunanan Surakarta, Kesultanan Jogjakarta, Kadipaten Mangkunegaran dan Paku Alaman.


Pagelaran Catur Sagotra tahun ini di gelar pada jumat (28/11) bertempat di Bangsal Kepatihan Komplek Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan mengusung tema “Kalyana: Olah Pikir, Olah Raga, Olah Jiwa”.


Selain menjadi ajang pentas budaya empat pewaris Mataram Islam, Catur Sagotra juga ruang silaturahmi empat keluarga besar Mataram dalam rangka menjaga kekerabatan, kebudayaan dan nilai nilai spiritual jawa di antara mereka.


Para perempuan pimpinan delegasi catur sagotra / Foto : Istimewa

 

Pada acara pentas budaya Catur Sagotra, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mengutus GKR Panembahan Timoer menandai tugas pertamanya sebagai pengageng Sasana Wilapa yang di kukuhkan oleh PB XIV Purbaya. Kehadiran tersebut menandai peran aktif Keraton Surakarta dalam forum kekerabatan empat keluarga besar Mataram.


Sementara itu dari Kesultanan Yogyakarta adalah GKR Bendara, putri Sri Sultan Hamengkubawana X, dari Mangkunegaran GRAj. Ancillasura Marina Sudjiwo, putri KGPAA Mangkunegara IX. Sedangkan utusan dari Pakualaman adalah, GKBRAA Paku Alam, permaisuri KGPAA Pakualam X.


Ke empatnya adalah para perempuan bangsawan yang mewakili budaya keluarga mereka masing masing.


Di sela sela acara Catur Sagotra, GKR Panembahan Timoer memberikan keterangan, bahwa ajang silaturahmi empat keluarga besar Mataram Islam ini merupakan ajang penting dalam meneguhkan kembali hubungan kekerabatan antar istana.


Catur Sagatra ujar GKR Panembahan Timoer bukan sekadar pertemuan seremonial, namun ruang untuk kembali menyatukan komitmen empat istana didalam menjaga martabat adat dan budaya Jawa. Tema Kalyana menguatkan, bahwa warisan Mataram Islam bukan hanya tentang tradisi, tetapi juga tentang bagaimana kita menata pikir, menata gerak, dan menata jiwa, jelasnya


Kehadiran para delegasi yang di nahkodai para Perempuan lanjut GKR Panembahan Timoer,  membawa makna mendalam bagi kesinambungan adat.


Hal itu menunjukkan bahwa perempuan dalam tradisi Mataram Islam, keanggunan bukan hanya simbol tetapi juga memikul amanat budaya. Ada pesan kuat bahwa kesinambungan adat juga bertumpu pada keteguhan dan welas asih yang dibawa para Perempuan istana.


GKR Panembahan Timoer sebut, tugasnya kali ini merupakan kehormatan tersendiri, mengingat  langkah awal ia mengemban tugas setelah menerima dhawuh dari SISKS Pakoe Boewono XIV.

 

“Ini tugas perdana saya di luar Karaton setelah dikukuhkan sebagai Pengageng Sasana Wilapa. Saya menjalankannya dengan penuh tanggung jawab dan harapan semoga kehadiran Karaton Surakarta dapat selalu memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat persaudaraan empat istana, pungkasnya

 

Terpisah, K.R.T. Tri Harjanto Budayadipura selaku Pangarsa Beksan Karaton Surakarta menyampaikan, bahwa keberlangsungan Catur Sagotra adalah bukti kuat budaya Jawa peninggalan dinasti Mataram Islam masih hidup dan lestari.


Acara Catur Sagatra menjadi penanda bahwa pelestarian budaya Jawa peninggalan leluhur, terutama dari Dinasti Mataram Islam, masih berlangsung hingga saat ini. Seperti Beksan Wiryanaranata yang di usung para penari dari Keraton Kasunanan Surakarta, menjadi pengingat bahwa nilai luhur itu harus terus dijaga.

 

Beksan Wiryanaranata diperagakan oleh sembilan penari inti, terdiri dari empat penari putra dan lima penari putri. Empat penari putra tersebut melambangkan Catur Murti, empat unsur pembentuk kehidupan, Tanah, simbol stabilitas; Air, lambang kelembutan; Api, kekuatan energi dan semangat; dan Angin, simbol transformasi dan keluwesan.

 

Konsep ini selaras dengan tema “Kalyana”, yang menegaskan pentingnya keseimbangan antara pikiran, tindakan fisik, dan kejernihan jiwa.

 

Sebagai pemimpin rombongan Kasunanan Surakarta dalam Catur Sagotra 2025, KPH Adipati Panembahan Sosronegoro mengatakan makna penting kegiatan tersebut bagi eksistensi kebudayaan Mataram di tengah arus perubahan zaman.

 

Catur Sagatra bukan sekadar pertemuan empat dinasti. Ini adalah wahana merawat jati diri, menjaga kesinambungan nilai-nilai luhur, dan memperkuat rasa kekeluargaan di antara sentana dalem lintas istana. Selama tradisi ini dijalankan, selama itu pula kebudayaan Mataram akan tetap hidup.

 

Beliau juga menekankan bahwa keterlibatan generasi muda dalam beksan dan seni tradisi menjadi kunci keberlanjutan budaya.

 

Kami bersyukur bahwa para penari muda Kasunanan Surakarta mampu menjiwai Wiryanaranata. Ini tanda bahwa warisan leluhur diteruskan oleh generasi yang tepat. /

(red/Jk)