Advertisement
Dt. Anggoro Panji Nugroho, M.M
Pesan Kebangsaan oleh:
Dr. Anggoro Panji Nugroho, M.M. (Ketua Yayasan Karya Dharma Pancasila / UNDHA AUB Surakarta & Alumni Lemhannas Angkatan 39)
METROKOTA- Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke 81yang jatuh pada
tanggal 17 Agustus bukan sekedar momentum
bagi bangsa ini, untuk mengenang dan mentauladani jasa para pahlawan yang rela
gugur mengorbankan nyawa berjuang untuk meraih cita cita kemerdekaan.
Akan tetapi pada HUT RI ke 81 ini kita sebagai pewaris dan
penerus bangsa, harus mengisi kemerdekaan dengan berbagai hal yang bermanfaat bagi
kemajuan bangsa dan negara Indonesia.
Perayaan kemerdekaan oleh sebagian orang hanya di anggap
seremoni peringatan belaka, padahal jika kita cermati secara mendalam, kemerdekaan
adalah awal dari tonggak konsensus atau kesepakatan bersama para pendiri bangsa
di dalam membangun pondasi bernegara berdasarkan keragaman budaya Bhinnneka
Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrva.
Sebagai negara kepulauan, kesepakatan bersama tersebut
melahirkan dasar negara Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 sebagai pijakan konstitusi
dalam bernegara.
Sebagai bangsa besar yang memiliki budaya luhur, Indonesia
lahir dari keragaman tradisi, adat, dan budaya. Keragaman budaya bangsa
tersebut harus kita jaga dan rawat untuk memperkuat rasa persatuan dan kesatuan
di tengah masyarakat.
Jangan sampai keragaman budaya dan toleransi bangsa ini
rusak ataupun di rusak oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Sebagai
generasi pewaris kita harus kuat menjaganya, jangan sampai lengah dan terlena agar
toleransi tidak retak.
Harmonisai budaya bukan sekedar wajah bagi bangsa ini , akan
tetapi juga menjadi cermin karakter jatu diri bangsa Indonesia yang berbudaya. Budaya
dalam hal ini kearifan adalah sarana pemersatu di dalam menjaga keragaman suku,
adat dan budaya.
Nilai kearifan sebagai benteng pertahanan bangsa tersebut
dapat kita lihat dari sejarah panjang akar peradaban budaya bangsa Nusantara
yang menjunjung tinggi toleransi sejak dari masa kejayaan Wangsa Sanjaya dan Syailendra
hingga pada kejayaan Kerajaan Majapahit.
Semua itu dapat kita lihat jejak kebesaran dan kejayaanya
dalam toleransi keragaman budaya.
Oleh sebab itu maka tidaklah aneh, jika kearifan local suku
bangsa Nusantara menjadi salah satu perekat bagi ketahanan bangsa Nusantara di masa lalu.
Sebagai generasi muda
penerus bangsa, masyarakat khususnya generasi muda, memiliki kewajiban moral
untuk menjaga kearifan tersebut.
Generasi muda tidak hanya dituntut menjadi pewaris dan
pelestari, namun juga harus mampu mewujudkan masa depan emas.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan arus
globalisasi, generasi muda perlu dibentengi dengan nilai kearifan. Keterbukaan
dan kebebasan informasi tanpa filter berpotensi mengikis karakter jati diri dan
akar budaya bangsa, sekaligus berpotensi melemahkannya rasa persatuan dan kesatuan,
serta membuat masyarakat mudah terpecah belah.
Oleh karena itu pertahanan terbaik bangsa ini tidak diukur hanya
dari kekuatan militernya saja, melainkan sampai sejauh mana masyarakatnya mampu
menjaga akar budaya bangsanya sendiri.
Kebudayaan dalam konteks bernegara merupakan bagian integral
dari ketahanan nasional yang harus dilindungi secara berkelanjutan.
Berkaca dari kejayaan bangsa Nusantara di masa lalu, masa
depan bangsa indonesia tidak bisa lepas dari sejarah masa lalu bangsa Nusantara.
Peradaban sejarah masa lalu adalah pijakan bagi bangsa ini menapaki tujuan menuju
Indonesia emas, adil, makmur dan sejahtera.
Tema Berdaulat Adil dan Makmur yang di usung pada peringatan
HUT RI ke 81 tahun harus bisa menjadi tonggak bagi bangsa ini, kembali menguatkan
budaya gotong royong yang sekarang semakin hilang dari tengah masyarakat.
Timbulnya persoalan disintegrasi di beberapa daerah, tak
lepas dari semakin berkurangnya rasa toleransi dan budaya gotong royong.
Konsensus besar para pendiri bangsa yang menyatukan
keragaman budaya suku bangsa Nusantara harus kita rawat dan jaga keberlangsunganya.
Para pemangku kebijakan harus kembali pada semangat konsesus
para pendiri bangsa. Bahwa keutuhan bangsa Indonesia hanya bisa di wujudkan
jika toleransi dan semangat gotong royong terus terpelihara dengan baik.
Dr. Anggoro Panji Nugroho, M.M mengajak seluruh masyarakat menjaga
keragaman budaya bangsa dan merawat nilai nilai kearifan yang di milikinya.
Kearifan bukan sekedar tradisi, adat dan budaya, tetapi juga
ajaran hidup yang di wariskan para leluhur kepada kita, agar bisa menjadi manusia
unggul, bermartabat dan berbudi pekerti luhur.
Kearifan lokal adalah budaya adi luhung. Sedangkan adi luhung
merupakan esensi dari nilai yang tertanam pada budaya tersebut.
Budaya adi luhung di dasarkan pada olah pikir dan rasa yang berpijak
pada nilai nilai keillahian di dalam menjaga hubungan manusia dengan manusia,
manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan Sang Maha Pencipta-Nya.

