Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement

metrosurakarta
8/19/2026, 8/19/2026 WIB
Last Updated 2026-08-19T12:19:02Z
MetrokotaPendidikan

Memaknai Kemerdekaan RI Ke 81: Merawat Kearifan Nusantara Menuju Indonesia Emas

Advertisement

 

Dt. Anggoro Panji Nugroho, M.M


Pesan Kebangsaan oleh:

Dr. Anggoro Panji Nugroho, M.M. (Ketua Yayasan Karya Dharma Pancasila / UNDHA AUB Surakarta & Alumni Lemhannas Angkatan 39)


METROKOTA- Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke 81yang jatuh pada tanggal 17 Agustus  bukan sekedar momentum bagi bangsa ini, untuk mengenang dan mentauladani jasa para pahlawan yang rela gugur mengorbankan nyawa berjuang untuk meraih cita cita kemerdekaan.


Akan tetapi pada HUT RI ke 81 ini kita sebagai pewaris dan penerus bangsa, harus mengisi kemerdekaan dengan berbagai hal yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia.


Perayaan kemerdekaan oleh sebagian orang hanya di anggap seremoni peringatan belaka, padahal jika kita cermati secara mendalam, kemerdekaan adalah awal dari tonggak konsensus atau kesepakatan bersama para pendiri bangsa di dalam membangun pondasi bernegara berdasarkan keragaman budaya Bhinnneka Tunggal Ika, Tan Hana  Dharma Mangrva.


Sebagai negara kepulauan, kesepakatan bersama tersebut melahirkan dasar negara Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 sebagai pijakan konstitusi dalam bernegara.


Sebagai bangsa besar yang memiliki budaya luhur, Indonesia lahir dari keragaman tradisi, adat, dan budaya. Keragaman budaya bangsa tersebut harus kita jaga dan rawat untuk memperkuat rasa persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat.


Jangan sampai keragaman budaya dan toleransi bangsa ini rusak ataupun di rusak oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Sebagai generasi pewaris kita harus kuat menjaganya, jangan sampai lengah dan terlena agar toleransi tidak retak.


Harmonisai budaya bukan sekedar wajah bagi bangsa ini , akan tetapi juga menjadi cermin karakter jatu diri bangsa Indonesia yang berbudaya. Budaya dalam hal ini kearifan adalah sarana pemersatu di dalam menjaga keragaman suku, adat dan budaya.


Nilai kearifan sebagai benteng pertahanan bangsa tersebut dapat kita lihat dari sejarah panjang akar peradaban budaya bangsa Nusantara yang menjunjung tinggi toleransi sejak dari masa kejayaan Wangsa Sanjaya dan Syailendra hingga pada kejayaan Kerajaan Majapahit.


Semua itu dapat kita lihat jejak kebesaran dan kejayaanya dalam toleransi keragaman budaya.


Oleh sebab itu maka tidaklah aneh, jika kearifan local suku bangsa Nusantara menjadi salah satu perekat bagi  ketahanan bangsa Nusantara di masa lalu.


 Sebagai generasi muda penerus bangsa, masyarakat khususnya generasi muda, memiliki kewajiban moral untuk menjaga kearifan tersebut.


Generasi muda tidak hanya dituntut menjadi pewaris dan pelestari, namun juga harus mampu mewujudkan masa depan emas.  


Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan arus globalisasi, generasi muda perlu dibentengi dengan nilai kearifan. Keterbukaan dan kebebasan informasi tanpa filter berpotensi mengikis karakter jati diri dan akar budaya bangsa, sekaligus berpotensi melemahkannya rasa persatuan dan kesatuan, serta membuat masyarakat mudah terpecah belah.


Oleh karena itu pertahanan terbaik bangsa ini tidak diukur hanya dari kekuatan militernya saja, melainkan sampai sejauh mana masyarakatnya mampu menjaga akar budaya bangsanya sendiri.


Kebudayaan dalam konteks bernegara merupakan bagian integral dari ketahanan nasional yang harus dilindungi secara berkelanjutan.


Berkaca dari kejayaan bangsa Nusantara di masa lalu, masa depan bangsa indonesia tidak bisa lepas dari sejarah masa lalu bangsa Nusantara. Peradaban sejarah masa lalu adalah pijakan bagi bangsa ini menapaki tujuan menuju Indonesia emas, adil, makmur dan sejahtera.


Tema Berdaulat Adil dan Makmur yang di usung pada peringatan HUT RI ke 81 tahun harus bisa menjadi tonggak bagi bangsa ini, kembali menguatkan budaya gotong royong yang sekarang semakin hilang dari tengah masyarakat.  


Timbulnya persoalan disintegrasi di beberapa daerah, tak lepas dari semakin berkurangnya rasa toleransi dan budaya gotong royong.


Konsensus besar para pendiri bangsa yang menyatukan keragaman budaya suku bangsa Nusantara harus kita rawat dan jaga keberlangsunganya.


Para pemangku kebijakan harus kembali pada semangat konsesus para pendiri bangsa. Bahwa keutuhan bangsa Indonesia hanya bisa di wujudkan jika toleransi dan semangat gotong royong terus terpelihara dengan baik.


Dr. Anggoro Panji Nugroho, M.M mengajak seluruh masyarakat menjaga keragaman budaya bangsa dan merawat nilai nilai kearifan yang di milikinya.


Kearifan bukan sekedar tradisi, adat dan budaya, tetapi juga ajaran hidup yang di wariskan para leluhur kepada kita, agar bisa menjadi manusia unggul, bermartabat dan berbudi pekerti luhur.


Kearifan lokal adalah budaya adi luhung. Sedangkan adi luhung merupakan esensi dari nilai yang tertanam pada budaya tersebut.


Budaya adi luhung di dasarkan pada olah pikir dan rasa yang berpijak pada nilai nilai keillahian di dalam menjaga hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan Sang Maha Pencipta-Nya.