Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement

metrosurakarta
7/26/2026, 7/26/2026 WIB
Last Updated 2026-07-26T14:19:19Z
BudayaMetrokota

Kirab Budaya Di CFD, Warga Solo Memimpikan Gedung Kebudayaan Dan Kesenian

Advertisement

 

Kirab Budaya Di CFD/ Minggu, 26/07/26


BUDAYA-Suarakan aspirasi pembangunan Gedung Kesenian dan Kebudayaan, ratusan pegiat budaya dari berbagai komunitas seni, Minggu Pagi (26/07/26) menggelar kirab budaya di Solo Car Free Day (CFD).


Pasalnya, Pemerintaha Kota Solo dinilai belum memiliki Gedung kesenian dan kebudayaan yang secara khusus di peruntukan bagi masyarakat dan komunitas seni yang ada di Kota Solo.


Keberadaan Gedung kesenian yang ada saat ini sebagian besar adalah milik instansi atau lembaga di luar Pemerintah Kota Solo, sehingga apabila ingin menggunakanya tentu harus memakai uang sewa.


Ketua Umum FBM, Dr. BRM Kusumo Putro, S.H,.M.H


Ini sangat memberatkan masyarakat yang notabene mereka adalah para seniman dan pegiat yang murni ingin menjaga dan melestarikan seni budaya, kata Dr. BRM Kusumo Putro, S.H,.M.H, koordinator kirab budaya sekaligus Ketua Umum Forum Budaya Mataram (FBM).


Aspirasi yang di sampaikan lewat kirab budaya ini lanjut Ketua FBM, akan dilanjutkan dengan agenda lain seperti hearing dengan DPRD Kota Surakarta dan aspirasi langsung kepada Walikota Solo, Respati Ardi.


Kusumo menyayangkan peran Pemerintah Kota Solo yang dinilai kurang perhatian terhadap para komunitas seni di Kota Solo. Hal itu tampak dari semakin hilangnya sanggar sanggar komunitas seni, baik tari, karawitan, luklis, music dan komunitas seni lainya yang ada di tengah masyarakat.


Oleh karena itu sebutan Solo sebagai Kota Budaya di nilai Kusumo hanya akan menjadi slogan kosong belaka jika Pemerintah kota dan DPRD tidak peduli terhadap kondisi yang ada.


Untuk itu kepada Pemerintah Pusat dan daerah, Kusumo berharap Pembangunan Gedung Kesenian dan Kebudayaan dapat di realisasikan sesuai dengan kebutuhan yang ada. Apalagi di Kota Solo lanjut dia, masih banyak lahan kosong milik pemkot Solo yang bisa di pakai untuk membangun Gedung Kesenian dan Kebudayaan.


Apalagi sebagai Kota Bisnis dan Pariwisata berbasis seni budaya, sudah seharusnya Pemkot Solo melakukan pemberdayaan dan pengembangan budaya melalui berbagai hal termasuk penyediaan sarana prasarana bagi kebutuhan masyarakat dalam mengembangkan seni budaya.


Pengembangan tersebut tidak hanya membantu perekonomian masyarakat dan industry kreatif, namun juga pembangunan sumber daya manusia di dalam membentuk karakter dan jatidiri sebagai masyarakat berbudaya.


Kirab yang di ikuti sekitar 300 orang pegiat seni budaya tersebut juga membagikan stiker sebanyak 5000 lembar untuk warga yang beraktifitas di CFD.


Sementara itu masyarakat yang menerima pembagian stiker bertuliskan ‘ Warga Solo Memimpikan Berdirinya Gedung Kesenian dan Kebudayaan di Kota Solo’ juga antusias mendukung aspirasi yang di sampaikan lewat kirab budaya.


Senada dengan Ketua Forum Budaya Mataram, Ketua Perjuangan Walisongo Indonesia yang juga tokoh muda NU asal Solo, Sudrajat Kentas Pribadi, memberikan dukungan terhadap aspirasi yang di sampaikan oleh para komunitas seni dan pegiat budaya melalui gelaran kirab budaya.


Kiri, Tokoh Muda NU, Sudrajat Kentas Pribadi


Menurutnya, sebagai Kota Budaya yang mewarisi nilai nilai luhur budaya Jawa, Solo adalah pusat kebudayaan Jawa di Nusantara yang harus di pelihara dan di jaga. Nilai nilai tersebut bagi dia adalah karakter jatidiri masyarakat Jawa yang harus di wariskan kepada para generasi muda.


Di tengah derasnya arus informasi bebas di internet, filter terkuat untuk generasi kita adalah karakter, sebab jika generasi muda tidak memiliki karakter kuat maka ia akan mudah terpapar ideologi transnasional, intoleran dan radikalisme.


Apalagi paparan ideologi intoleran dan radikalisme saat ini sudah sangat memperihatinkan sekali menyasar para generasi muda, sehingga melalui penguatan karakter tersebut generasi muda tidak akan mudah terpapar.


Mereka memiliki filter dan pemahaman pada nilai nilai luhur yang bertentangan dengan intoleran dan radikalisme. Budaya juga sebagai ruang untuk saling menjaga dan menghormati keragaman, perbedaan ide dan gagasan, tanpa memandang suku, agama dan ras.


Dari berbagai manfaat yang ada untuk masyarakat Solo baik untuk pengembangan, edukasi, penguatan nilai karakter, menjaga keberagaman, persatuan dan kesatuan, maka pendirian Gedung Kesenian dan Kebudayaan di harapkan dapat menjadi pusat kebudayaan di Kota Solo dengan senantiasa memegang teguh nilai nilai luhur budaya Jawa./ Jk