Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement

metrosurakarta
7/29/2026, 7/29/2026 WIB
Last Updated 2026-07-29T03:49:51Z
MetrokotaPendidikan

Sang Pelopor Pusaka Dharma Pancasila, Dari Medan Perang Fisik Menuju Pembangunan Kualitas Manusia

Advertisement

 

Dr. (Cand) Drajat Jati Prakosa, S.E,.M.M, Akademisi UNDHA AUB Surakarta sekaligus alumni LEMHANAS RI Angkatan ke 39/ Foto : Istimewa


PENDIDIKAN- Perguruan tinggi adalah lembaga pendidikan tinggi yang menekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan profesional, dan pengembangan karakter. Lembaga Pendidikan tinggi tidak hanya memberikan pendidikan akademik, namun juga sebagai pusat penelitian dan inovasi berbasis ilmu pengetahuan.


‘Sekaligus membentuk sumber daya manusia yang unggul, kompeten, berahklak dan beradab sehingga mampu bersaing di kancah global.’ Kata Dr.(Cand) Drajat Jati Prakosa, S.E, M.M, alumni LEMHANAS RI Angkatan Ke 39 yang juga akademisi UNDHA AUB Surakarta.


Lebih jauh di katakan, secara umum perguruan tinggi juga memiliki peran strategis untuk  menjaga ketahanan negara melalui penciptaan generasi muda para agen perubahan.


Fungsi ketahanan tersebut adalah menjaga keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara pada sebuah cita cita besar Pembangunan Nasional yaitu mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.


Oleh karena itu lembaga perguruan tinggi yang baik tentu harus di bangun atas dasar pondasi nilai nilai perjuangan, bukan sekedar orientasi keuntungan semata.


Para pejuang meletakan pendidikan bagian dari sebuah perjuangan panjang bangsa yang harus berjalan tiada henti seiring dengan perkembangan jaman yang ada.


Perjuangan yang di tanamkan oleh para pendiri bangsa ini bukan tanpa sebab, karena mereka memahami bahwa kemajuan dan kemandirian bangsa tak bisa di lepaskan dari para generasi muda yang dicetak melalui dunia Pendidikan.   


Penanaman nilai nilai perjuangan dan kearifan harus menjadi visi bagi lembaga perguruan tinggi untuk memperoleh hasil lulusan yang unggul, kompeten dan bermartabat.  


MA Tukidjo Martoadmojo , bapak pelopor pendidikan di Kota Solo

Seperti halnya penanaman nilai nilai perjuangan dan kearifan yang pernah di tanamkan oleh MA. Tukidjo Martoadmojo, pendiri AUB Surakarta ( Sekarang UNDHA AUB Surakarta ) sekaligus bapak pelopor Pendidikan asal Solo, yang meletakan nilai nilai perjuangan sebagai dasar berdirinya Yayasan Dharma Pancasila.


Dalam perjalanan hidupnya, Tukidjo mentransformasikan perjuangan dari medan perang fisik menuju Pembangunan kualitas manusia.


Bahwa seorang pahlawan itu bukan hanya mereka yang berjuang merebut kemerdekaan, tetapi juga memastikan kemerdekaan tersebut di isi dengan akal budi dan karakter luhur dari sebuah pengamalan dharma kebaikan.


Tiga wujud pengabdian yang pernah di lakukan oleh Tukidjo Martoadmojo yang pertama ia sebagai pejuang kemerdekaan yang berani mempertaruhkan nyawa dimedan fisik demi tegaknya Republik.


Kedua, penjaga ideologi sebagai tameng pelindung dasar negara yang aktif menumpas rongrongan terhadap kesucian Pancasila.


Ketiga sebagai bapak Pendidikan atau arsitek peradaban yang meletakan fondasi pencerdasan bangsa melalui Yayasan Dharma Pancasila.


Lahir pada hari Sabtu Wage, 8 Agustus 1919 di tengah pergolakan revolusi perang kemerdekaan, MA Tukidjo Martoadmodjo tumbuh menjadi anak yang memiliki semangat juang tinggi.


Seperti anak anak sebayannya, situasi dan kondisi perang saat itu secara tidak langsung membentuk jiwa patriotisme dan kecintaanya pada bangsa dan negara.


Tantangan dan kesulitan yang di hadapi bangsa ini dalam pergolakan kolonialisme tak membuat Tukidjo dan anak anak sebayanya gentar, justru melalui pergolakan tersebut ia di didik dan di asah menjadi pejuang pejuang yang tangguh.


Menjadi generasi penerus perjuangan Boedi Oetomo dan melanjutkan jejak perjuangan para pahlawan tidak hanya melalui senjata, tetapi juga pendidikan.


Api semangat perjuangan tersebut di bentuk dari tempaan situasi dan didikan orang tuanya yang menanamkan budi pekerti yang di bersumber ajaran falsafat jawa.


Keluarga bagi Tukidjo Martoatmodjo adalah istana tempat dia di besarkan. Tempat dia menerima pembelajaran hidup yang kelak akan membawanya pada cita cita luhur. Keluarga adalah lingkungan paling dekat yang membangun mental dan spiritual, dasar dari pembangunan karakter dan jatidiri.


Memiliki kepribadian Tangguh, sepi ing pamrih rame ing gawe adalah salah satu motto hidup yang di pegang teguh oleh Tukidjo Martoatmodjo. Falsafat jawa yang memiliki nilai religius selalu di implementasikan dalam kehidupan sehari hari.


Hal itu terscermin dari banyaknya makna simbolik di hadirkan dalam dunia Pendidikan yang di rintisnya.


Pancasila sebagai ideologi negara yang di cetuskan oleh para pendiri bangsa sebagai landasan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, senantiasa harus di pegang teguh untuk asas perjuangan dalam mencerdaskan bangsa.


Begitu juga cita cita perjuangan yang selama ini di bangun, semua harus di dasarkan pada asas kabangsaan. Agar seluruh perjuangan yang di lakukan dapat memberikan kontribusi nyata tidak hanya untuk keluarga dan masyarakat, tetapi juga bangsa dan negara.


Tukidjo Martoatmodjo menyadari, perang revolusi membuat semua orang tidak bisa mengenyam Pendidikan, hanya orang terpandang atau kalangan ningrat saja yang bisa belajar di sekolah. Keterbatasan akses pendidikan akhirnya membuat sebagian besar rakyat Indonesia pada masa itu banyak yang bodoh. Dampak dari kebodohan tersebut adalah kemiskinan.


Oleh sebab itu hanya dengan pendidikan yang maju dan berkualitas bangsa Indonesia terbebas dari belenggu kemiskinan dan kebodohan.


Beranjak atas dasar kepedulian pada pemberantasan kebodohan itulah, Tukidjo Martoatmodjo kemudian merintis Lembaga Pendidikan dari mulai usia dini hingga perguruan tinggi di Kota Solo.


Meski untuk mewujudkan mimpi tersebut tidaklah mudah, karena mencari sumber daya pendidik pada waktu itu sangatlah sulit. Tidak banyak orang memiliki kemampuan akademik apalagi berprofesi sebagai guru.


Akan tetapi kendati demikian, kesulitan tak menyurutkan niatnya melanjutkan perjuanganya melalui dunia Pendidikan.


Tukidjo memahami betul bahwa hanya dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan yang baik bangsa Indonesia akan mencapai kemerdekaan sesungguhnya. Bukan hanya seremoni dan fisik, tetapi dalam aspek sesungguhnya yakni mandiri, sejahtera, adil dan beradab.


Adil dalam aspek sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Sejahtera dalam aspek kesetaraan tanpa ketimpangan yang jauh antara yang kaya dengan yang miskin.


Kesenjangan ekonomi yang  jauh antara kaya dengan miskin akan menimbulkan dampak kecemburuan sosial. Imbasnya tentu akan mempengaruhi semua aspek kehidupan bernegara, baik ekonomi, sosial, budaya dan politik.


Tak banyak pejuang semasa hidupnya mendedikasikan diri hanya untuk bangsa dan negara. Bahkan dedikasi tersebut berlanjut sampai pada generasi penerus penerusnya. Menanamkan nilai nilai semangat perjuangan pada genersi penerus bukanlah  hal yang mudah, apalagi penanaman tersebut melekat dari generasi ke generasi.


Hal itu menjadi gambaran Tukidjo Martoatmodjo, sosok pejuang yang tak mudah menyerah pada keadaan.


Kontribusinya yang besar pada perang revolusi kemerdekaan dan pasca kemerdekaan, menjadikan dia sosok yang di kagumi oleh para generasi penerusnya, karena dalam kamus pribadinya tak kenal kata putus asa.


Pengorbanan dalam perjuangan adalah keniscayaan yang harus di lakukan. Sebab hanya melalui pengorbanan itu kita dididik memiliki kepedulian kepada sesama, bangsa dan negara.

 

Pendidikan Tukidjo Martoatmodjo

Akses menempuh Pendidikan formal pada masa kolonialisme sangatlah sulit. Selain hanya untuk para pejabat dan kalangan ningrat, akses memperoleh pendidikan juga tidak gampang dan berbiaya sangat mahal. Oleh orang tuanya Tukidjo mengawali pendidikan pertamanya di Sekolah Dasar (Standart School) dan Vervolk School pada tahun 1928/29. 


Pendidikan dasar ini menjadi tonggak pondasi penting dalam membangun karakter dan wawasan yang kelak akan membawa dia pada perjalanan hidup yang penuh kontribusi pada negara. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Tukidjo kemudian melanjutkan Pendidikan ke jenjang menengah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Inheimse Arjuna pada tahun 1932.


Di jenjang yang lebih tinggi ini ia tidak hanya memperluas pengetahuan akademiknya, tetapi juga mulai menunjukkan minat besar pada pengembangan diri dan karakter.


Melalui Pendidikan yang dia peroleh, Tukidjo menemukan banyak ide dan gagasan baru. Memperkuat semangat nasionalisme dan  keterampilan kepemimpinanya yang kelak akan menjadi ciri khas kepribadian dia dalam mewujudkan mimpi perjuangan.


Di tengah lingkungan yang mendukung pembelajaran dan pengembangan karakter, Tukidjo mulai aktif di berbagai kegiatan organisasi yang menjadi bekal penting karier perjuanganya.


Tahun 1942, Tukidjo melanjutkan pendidikan di Sekolah Pelayaran Tinggi di Makassar (Ujungpandang). Pendidikan pelayaran membuka wawasan pentingnya penguasaan keterampilan dan tanggung jawab yang harus dia pegang. Tukidjo juga di didik bagaimana tanggung jawab itu tidak hanya di pikul secara individu, namun juga gotong royong.


Sekolah pelayaran mengasah ketrampilan kepemimpinan dia sebagai nahkoda.


Di sisi yang lain seorang nahkoda juga harus mampu membangun tanggung jawab bersama. Sebab sebuah perahu tidak mungkin hanya berjalan dengan nahkoda tanpa awak lain, begitupun perahu dan awak perahu tidak akan mungkin berlayar jika tanpa nahkoda.


Setelah lulus sekolah pelayaran, Tukidjo selanjutnya menempuh pendidikan keperwiraan di Kasatriyan Surabaya. Pendidikan ini membentuk karakter kepemimpinan yang lebih matang dan melatihnya untuk menghadapi berbagai tantangan di bidang militer dan kenegaraan.


Selain pengembangan intelektual, pendidikan keperwiraan juga menanamkan nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, dan semangat pengabdian yang tinggi sebagai seorang pemimpin.


Pendidikan formal yang dijalani oleh Tukidjo tidak hanya membekali dia dengan pengetahuan akademik, tetapi juga membangun karakter tangguh dan nilai-nilai kepemimpinan yang kuat. Pendidikan adalah kunci utama untuk meraih kemerdekaan, kesuksesan, memperbaiki kondisi sosial, serta memajukan bangsa.


Selain pencapaian bidang akademi yang pada masa itu tidak semua orang bisa memiliki, pengalaman pendidikan juga membentuk integritas dan jiwa sosial yang tinggi dalam diri Tukidjo.


Beliau memahami betul bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari gelar akademik, tetapi juga sejauh mana ilmu yang diperoleh tersebut dapat memberikan manfaat nyata untuk masyarakat.


Melalui wawasanya yang luas, Tukidjo akhirnya mampu menjadi sosok yang terus berkomitmen pada perubahan positif, baik melalui pendidikan, kebijakan, maupun pengabdian langsung kepada masyarakat. Perjalanan pendidikan formal Tukidjo mencerminkan perpaduan antara tekad, kerja keras, dan semangat untuk memberikan pengabdian yang terbaik pada bangsa dan negara.


Dunia Pendidikan yang di tempuh bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga sebagai upaya untuk mewujudkan cita-cita besar bangsa Indonesia, bahwa pendidikan adalah jembatan emas menuju kesejahteraan dan kemakmuran. 


Pendidikan bagi dia bukan hanya tentang meraih gelar, tetapi juga tentang bagaimana ilmu tersebut digunakan untuk memperbaiki kondisi bangsa. Melalui dedikasi terhadap pendidikan dan semangat nasionalisme, Tukidjo dapat memberikan kontribusi dalam membangun Indonesia merdeka, mandiri, dan bermartabat./ Tok