Advertisement
PENDIDIKAN- Perguruan tinggi adalah lembaga pendidikan tinggi yang
menekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan profesional, dan
pengembangan karakter. Lembaga Pendidikan tinggi tidak hanya memberikan
pendidikan akademik, namun juga sebagai pusat penelitian dan inovasi berbasis ilmu
pengetahuan.
‘Sekaligus membentuk sumber daya manusia yang unggul,
kompeten, berahklak dan beradab sehingga mampu bersaing di kancah global.’ Kata
Dr.(Cand) Drajat Jati Prakosa, S.E, M.M, alumni LEMHANAS RI Angkatan Ke 39 yang
juga akademisi UNDHA AUB Surakarta.
Lebih jauh di katakan, secara umum perguruan tinggi juga
memiliki peran strategis untuk menjaga
ketahanan negara melalui penciptaan generasi muda para agen perubahan.
Fungsi ketahanan tersebut adalah menjaga keberlangsungan
kehidupan berbangsa dan bernegara pada sebuah cita cita besar Pembangunan Nasional
yaitu mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Oleh karena itu lembaga perguruan tinggi yang baik tentu
harus di bangun atas dasar pondasi nilai nilai perjuangan, bukan sekedar
orientasi keuntungan semata.
Para pejuang meletakan pendidikan bagian dari sebuah
perjuangan panjang bangsa yang harus berjalan tiada henti seiring dengan perkembangan
jaman yang ada.
Perjuangan yang di tanamkan oleh para pendiri bangsa ini
bukan tanpa sebab, karena mereka memahami bahwa kemajuan dan kemandirian bangsa
tak bisa di lepaskan dari para generasi muda yang dicetak melalui dunia Pendidikan.
Penanaman nilai nilai perjuangan dan kearifan harus menjadi
visi bagi lembaga perguruan tinggi untuk memperoleh hasil lulusan yang unggul, kompeten
dan bermartabat.
Seperti halnya penanaman nilai nilai perjuangan dan kearifan
yang pernah di tanamkan oleh MA. Tukidjo Martoadmojo, pendiri AUB Surakarta (
Sekarang UNDHA AUB Surakarta ) sekaligus bapak pelopor Pendidikan asal Solo, yang
meletakan nilai nilai perjuangan sebagai dasar berdirinya Yayasan Dharma
Pancasila.
Dalam perjalanan hidupnya, Tukidjo mentransformasikan
perjuangan dari medan perang fisik menuju Pembangunan kualitas manusia.
Bahwa seorang pahlawan itu bukan hanya mereka yang berjuang merebut
kemerdekaan, tetapi juga memastikan kemerdekaan tersebut di isi dengan akal
budi dan karakter luhur dari sebuah pengamalan dharma kebaikan.
Tiga wujud pengabdian yang pernah di lakukan oleh Tukidjo
Martoadmojo yang pertama ia sebagai pejuang kemerdekaan yang berani
mempertaruhkan nyawa dimedan fisik demi tegaknya Republik.
Kedua, penjaga ideologi sebagai tameng pelindung dasar
negara yang aktif menumpas rongrongan terhadap kesucian Pancasila.
Ketiga sebagai bapak Pendidikan atau arsitek peradaban yang
meletakan fondasi pencerdasan bangsa melalui Yayasan Dharma Pancasila.
Lahir pada hari Sabtu Wage, 8 Agustus 1919 di tengah
pergolakan revolusi perang kemerdekaan, MA Tukidjo Martoadmodjo tumbuh menjadi
anak yang memiliki semangat juang tinggi.
Seperti anak anak sebayannya, situasi dan kondisi perang
saat itu secara tidak langsung membentuk jiwa patriotisme dan kecintaanya pada
bangsa dan negara.
Tantangan dan kesulitan yang di hadapi bangsa ini dalam
pergolakan kolonialisme tak membuat Tukidjo dan anak anak sebayanya gentar,
justru melalui pergolakan tersebut ia di didik dan di asah menjadi pejuang
pejuang yang tangguh.
Menjadi generasi penerus perjuangan Boedi Oetomo dan
melanjutkan jejak perjuangan para pahlawan tidak hanya melalui senjata, tetapi
juga pendidikan.
Api semangat perjuangan tersebut di bentuk dari tempaan
situasi dan didikan orang tuanya yang menanamkan budi pekerti yang di bersumber
ajaran falsafat jawa.
Keluarga bagi Tukidjo Martoatmodjo adalah istana tempat dia
di besarkan. Tempat dia menerima pembelajaran hidup yang kelak akan membawanya
pada cita cita luhur. Keluarga adalah lingkungan paling dekat yang membangun
mental dan spiritual, dasar dari pembangunan karakter dan jatidiri.
Memiliki kepribadian Tangguh, sepi ing pamrih rame ing
gawe adalah salah satu motto hidup yang di pegang teguh oleh Tukidjo
Martoatmodjo. Falsafat jawa yang memiliki nilai religius selalu di
implementasikan dalam kehidupan sehari hari.
Hal itu terscermin dari banyaknya makna simbolik di hadirkan
dalam dunia Pendidikan yang di rintisnya.
Pancasila sebagai ideologi negara yang di cetuskan oleh para
pendiri bangsa sebagai landasan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,
senantiasa harus di pegang teguh untuk asas perjuangan dalam mencerdaskan
bangsa.
Begitu juga cita cita perjuangan yang selama ini di bangun,
semua harus di dasarkan pada asas kabangsaan. Agar seluruh perjuangan yang di
lakukan dapat memberikan kontribusi nyata tidak hanya untuk keluarga dan
masyarakat, tetapi juga bangsa dan negara.
Tukidjo Martoatmodjo menyadari, perang revolusi membuat semua
orang tidak bisa mengenyam Pendidikan, hanya orang terpandang atau kalangan
ningrat saja yang bisa belajar di sekolah. Keterbatasan akses pendidikan
akhirnya membuat sebagian besar rakyat Indonesia pada masa itu banyak yang
bodoh. Dampak dari kebodohan tersebut adalah kemiskinan.
Oleh sebab itu hanya dengan pendidikan yang maju dan berkualitas
bangsa Indonesia terbebas dari belenggu kemiskinan dan kebodohan.
Beranjak atas dasar kepedulian pada pemberantasan kebodohan
itulah, Tukidjo Martoatmodjo kemudian merintis Lembaga Pendidikan dari mulai
usia dini hingga perguruan tinggi di Kota Solo.
Meski untuk mewujudkan mimpi tersebut tidaklah mudah, karena
mencari sumber daya pendidik pada waktu itu sangatlah sulit. Tidak banyak orang
memiliki kemampuan akademik apalagi berprofesi sebagai guru.
Akan tetapi kendati demikian, kesulitan tak menyurutkan niatnya
melanjutkan perjuanganya melalui dunia Pendidikan.
Tukidjo memahami betul bahwa hanya dengan ilmu pengetahuan
dan pendidikan yang baik bangsa Indonesia akan mencapai kemerdekaan sesungguhnya.
Bukan hanya seremoni dan fisik, tetapi dalam aspek sesungguhnya yakni mandiri,
sejahtera, adil dan beradab.
Adil dalam aspek sosial, budaya, politik, dan ekonomi.
Sejahtera dalam aspek kesetaraan tanpa ketimpangan yang jauh antara yang kaya
dengan yang miskin.
Kesenjangan ekonomi yang
jauh antara kaya dengan miskin akan menimbulkan dampak kecemburuan
sosial. Imbasnya tentu akan mempengaruhi semua aspek kehidupan bernegara, baik
ekonomi, sosial, budaya dan politik.
Tak banyak pejuang semasa hidupnya mendedikasikan diri hanya
untuk bangsa dan negara. Bahkan dedikasi tersebut berlanjut sampai pada
generasi penerus penerusnya. Menanamkan nilai nilai semangat perjuangan pada
genersi penerus bukanlah hal yang mudah,
apalagi penanaman tersebut melekat dari generasi ke generasi.
Hal itu menjadi gambaran Tukidjo Martoatmodjo, sosok pejuang
yang tak mudah menyerah pada keadaan.
Kontribusinya yang besar pada perang revolusi kemerdekaan
dan pasca kemerdekaan, menjadikan dia sosok yang di kagumi oleh para generasi
penerusnya, karena dalam kamus pribadinya tak kenal kata putus asa.
Pengorbanan dalam perjuangan adalah keniscayaan yang harus
di lakukan. Sebab hanya melalui pengorbanan itu kita dididik memiliki
kepedulian kepada sesama, bangsa dan negara.
Pendidikan Tukidjo Martoatmodjo
Akses menempuh Pendidikan formal pada masa kolonialisme
sangatlah sulit. Selain hanya untuk para pejabat dan kalangan ningrat, akses
memperoleh pendidikan juga tidak gampang dan berbiaya sangat mahal. Oleh orang
tuanya Tukidjo mengawali pendidikan pertamanya di Sekolah Dasar (Standart
School) dan Vervolk School pada tahun 1928/29.
Pendidikan dasar ini menjadi tonggak pondasi penting dalam
membangun karakter dan wawasan yang kelak akan membawa dia pada perjalanan
hidup yang penuh kontribusi pada negara. Setelah menyelesaikan pendidikan
dasarnya, Tukidjo kemudian melanjutkan Pendidikan ke jenjang menengah di MULO
(Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Inheimse Arjuna pada tahun 1932.
Di jenjang yang lebih tinggi ini ia tidak hanya memperluas
pengetahuan akademiknya, tetapi juga mulai menunjukkan minat besar pada
pengembangan diri dan karakter.
Melalui Pendidikan yang dia peroleh, Tukidjo menemukan
banyak ide dan gagasan baru. Memperkuat semangat nasionalisme dan keterampilan kepemimpinanya yang kelak akan
menjadi ciri khas kepribadian dia dalam mewujudkan mimpi perjuangan.
Di tengah lingkungan yang mendukung pembelajaran dan
pengembangan karakter, Tukidjo mulai aktif di berbagai kegiatan organisasi yang
menjadi bekal penting karier perjuanganya.
Tahun 1942, Tukidjo melanjutkan pendidikan di Sekolah
Pelayaran Tinggi di Makassar (Ujungpandang). Pendidikan pelayaran membuka
wawasan pentingnya penguasaan keterampilan dan tanggung jawab yang harus dia
pegang. Tukidjo juga di didik bagaimana tanggung jawab itu tidak hanya di pikul
secara individu, namun juga gotong royong.
Sekolah pelayaran mengasah ketrampilan kepemimpinan dia
sebagai nahkoda.
Di sisi yang lain seorang nahkoda juga harus mampu membangun
tanggung jawab bersama. Sebab sebuah perahu tidak mungkin hanya berjalan dengan
nahkoda tanpa awak lain, begitupun perahu dan awak perahu tidak akan mungkin
berlayar jika tanpa nahkoda.
Setelah lulus sekolah pelayaran, Tukidjo selanjutnya
menempuh pendidikan keperwiraan di Kasatriyan Surabaya. Pendidikan ini
membentuk karakter kepemimpinan yang lebih matang dan melatihnya untuk
menghadapi berbagai tantangan di bidang militer dan kenegaraan.
Selain pengembangan intelektual, pendidikan keperwiraan juga
menanamkan nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, dan semangat pengabdian yang
tinggi sebagai seorang pemimpin.
Pendidikan formal yang dijalani oleh Tukidjo tidak hanya
membekali dia dengan pengetahuan akademik, tetapi juga membangun karakter
tangguh dan nilai-nilai kepemimpinan yang kuat. Pendidikan adalah kunci utama
untuk meraih kemerdekaan, kesuksesan, memperbaiki kondisi sosial, serta
memajukan bangsa.
Selain pencapaian bidang akademi yang pada masa itu tidak
semua orang bisa memiliki, pengalaman pendidikan juga membentuk integritas dan
jiwa sosial yang tinggi dalam diri Tukidjo.
Beliau memahami betul bahwa keberhasilan tidak hanya diukur
dari gelar akademik, tetapi juga sejauh mana ilmu yang diperoleh tersebut dapat
memberikan manfaat nyata untuk masyarakat.
Melalui wawasanya yang luas, Tukidjo akhirnya mampu menjadi
sosok yang terus berkomitmen pada perubahan positif, baik melalui pendidikan,
kebijakan, maupun pengabdian langsung kepada masyarakat. Perjalanan pendidikan
formal Tukidjo mencerminkan perpaduan antara tekad, kerja keras, dan semangat
untuk memberikan pengabdian yang terbaik pada bangsa dan negara.
Dunia Pendidikan yang di tempuh bukan hanya untuk dirinya
sendiri, tetapi juga sebagai upaya untuk mewujudkan cita-cita besar bangsa
Indonesia, bahwa pendidikan adalah jembatan emas menuju kesejahteraan dan
kemakmuran.
Pendidikan bagi dia bukan hanya tentang meraih gelar, tetapi
juga tentang bagaimana ilmu tersebut digunakan untuk memperbaiki kondisi
bangsa. Melalui dedikasi terhadap pendidikan dan semangat nasionalisme, Tukidjo
dapat memberikan kontribusi dalam membangun Indonesia merdeka, mandiri, dan
bermartabat./ Tok

