Advertisement
METROKOTA-Ketua Umum Forum Budaya Mataram (FBM), BRM Dr Kusumo Putro,
S.H, M.H kembali menyuarakan kepada Pemerintah Kota maupun Pemerintah
Pusat, untuk segera membangun patung Pahlawan Nasional Pakoe Boewono X (PB X).
Beberapa titik strategis pembangunan patung tersebut kata Kusuma dapat di
lakukan diantaranya, di kawasan flyover Purwosari yang dinilainya sebagai pintu
masuk Kota Solo dari arah Barat. Selanjutnya di depan balaikota atau di
sekitaran gapura gladak yang lokasinya tak jauh dari patung pahlawan kemerdekaan Slamet Riyadi.
Di harapkan oleh Ketua Umum FBM dua patung pahlawan Nasional tersebut nantinya, dapat menjadi symbol kepahlawanan
yang berbeda masa didalam menentang kolonial dan berjuang kemerdekaan.
‘ Pembangunan patung PB X juga bisa di lakukan ditempat lain
yang di nilai strategis tidak hanya histori kesejarahan dan kepahlawanan, namun
juga kajian tata kota, filosofi, budaya dan daya Tarik. Sehingga akan memperkuat
symbol budaya di Kota Solo’ Ujar BRM Dr Kusumo Putro, S.H,.M.H yang
juga Ketua Dewan Pemerhati Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI).
Apalagi saat ini Keraton Kasunanan Surakarta sudah di
tetapkan sebagai cagar budaya Nasional, sehingga upaya pelestarian yang di
lakukan oleh Pemerintah melalui Kementerian terkait seharusnya tidak hanya berkutat
pada obyek cagar budaya yang ada, tetapi kawasan lain juga harus turut di benahi
karena merupakan satu kesatuan yang saling mendukung dalam landscape cagar
budaya di Kota Surakarta.
Alasan di suarakanya pembangunan patung pahlawan nasional PB
X ujar Ketua Umum FBM bukan tanpa sebab.
Selain aspirasi masyarakat Kota Solo, pembangunan patung tersebut
juga akan menjadi pengingat para generasi muda bahwa Solo memiliki pahlawan
Nasional, sekaligus contoh keteladanan nilai nilai kepahlawanan dan
kesejarahan.
Bagi Kusumo, PB X tidak hanya sosok pahlawan yang memiliki
andil sangat besar mendukung perjuangan menentang kolonialisme, akan
tetapi di masa kepemimpinanya beliau juga membangun sejarah peradaban dengan menjembatani
tradisi jawa dengan kemajuan jaman modern pada masa itu.
Sejarah mencatat, PB X pernah membangun pusat operasional pembangkit Listrik
yang di beri nama Solosche Electrisireits Maatschappij (SEM) yang didirikan pada
tanggal 12 Maret 1901 yang memasok energi ke kota, kantor kantor pemerintah dan
keraton, sekaligus mempercepat modernisasi kota, menerangi jalan dan mendukung
transportasi trem listrik pada tahun 1912.
Pembangunan pembangkit Listrik ini menandai awal mula modernisasi
yang di lakukan oleh PB X di bandingkan kota kota lain setelah Batavia. Karena
pada waktu itu listrik merupakan barang mewah yang hanya bisa nikmati oleh
elite pribumi, raja dan warga Eropa.
Dalam bidang ekonomi, PB X membangun Pasar Gede Harjonagoro
dan mendirikan Bank Bandha Lumaksa untuk menggerakan perekonomian dengan cara
memberikan pinjaman kepada para abdi dalem.
PBX juga mendirikan Sekolah Pamardi Putri, HIS
Ksatriyan dan sekolah pertanian di Tegalgondo, Klaten. Selain itu juga mengembangkan
sekolah pendidikan umum dan pendidikan islam antara lain Madrasah Mambaul Ulum
dan menghidupkan kembali Pesantren Jamsaren.
Di masa Pemerintahanya, PB X juga banyak membangun Infrastruktur
modern yang sampai saat ini masih dapat kita lihat seperti Stasiun Solo Jebres,
Stasiun Solo Kota, Taman dan Stadion Sriwedari, Kebun Binatang Jurug, Jembatan
Jurug, gapura batas Kota Surakarta, rumah pemotongan hewan ternak di Jagalan,
dan rumah perabuan jenasah warga Tionghoa.
PB X tercatat sebagai orang sekaligus raja Jawa pertama pemilik
mobil yang dipesan melalui perusahaan Prottle & Co yang berkantor di Pasar
Besar, Surabaya.
Pembangunan patung PB X jelas Kusumo akan menjadi bagian
yang tak terpisahkan dengan cagar budaya Keraton Kasunanan Surakarta. Manfaat Pembangunan
tersebut tidak hanya memperkuat identitas dan kebanggaan nasional, tetapi juga
memperkuat jati diri bangsa di dalam menanamkan rasa kebanggaan pada warisan
leluhur dan cermin kepribadian bangsa.
Sekaligus akan mampu memberikan kontribusi kesejahteraan
ekonomi melalui pengeloaan destinasi wisata, ekonomi kreatif masyarakat local, serta dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan inovasi seni budaya.
‘ Selain itu membangun toleransi terhadap keberagaman budaya
daerah dalam memupuk dan meningkatkan nilai persatuan di masyarakat’ Pungkasnya./ Djk
