Advertisement
METROSURAKARTA-Perempuan JAPFA Nusantara merupakan komunitas yang diinisiasi untuk mendorong keberdayaan perempuan.
Komunitas ini lahir dari pembelajaran berbagai program Investasi Sosial JAPFA yang banyak dimotori oleh perempuan.
Berangkat dari pembelajaran tersebut, maka lahirnya Komunitas Perempuan JAPFA Nusantara yang mengedepankan peran perempuan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.
“ Dalam beberapa bulan terakhir, perempuan JAPFA Nusantara sudah bergerak mengembangkan kegiatan usaha ramah lingkungan,” ujar R. Artsanti Alif, VP-Head of Social Investment JAPFA.
Lebih lanjut di tambahkan, selama ini kami sudah mengadakan serial pelatihan ecoenzym, pembuatan sabun organik dan ecoprint kepada para perempuan binaan Departemen Social Investment JAPFA melalui program Bank Sampah di Cirebon dan Sragen,
Artsanti, kegiatan usaha yang dilakukan antara lain berupaya mengelola dan mengurangi sampah rumah tangga, pelatihan ecoenzym, pembuatan sabun organik, dan pelatihan ecoprint agar bisa memberikan nilai tambah pada hasil pengolahan sampah di tingkat keluarga.
“Produksi ecoenzym diwajibkan dengan memanfaatkan sepenuhnya limbah dapur. Ide besarnya dari dapur kecil kita bisa memberikan kontribusi untuk merawat bumi,” Jelasnya
Sedangkan ecoprint ujar Artsanti, merupakan salah satu upaya memberikan nilai tambah dengan metode waste to art. Limbah daun dapat digunakan sebagai bahan untuk membentuk motif dengan teknik ecoprint.
Gerakan Perempuan JAPFA Nusantara di Jawa Tengah ditandai dengan pelatihan ecoprint tahap lanjutan yang menyasar perempuan dampingan di sekitar Pabrik Pakan JAPFA Sragen.
Sulasih salah satu peserta pelatihan ecoprint yang berasal dari Satelit Bank Sampah Kecik dampingan JAPFA mengatakan kegiatan ini melengkapi berbagai inisiatif yang dilakukan selama ini.
“Sebelumnya kami bergabung dengan Bank Sampah Kecik untuk mengelola sampah anorganik agar memiliki nilai ekonomi lebih,” ucapnya.
Dua minggu yang lalu Sulasih juga belajar membuat ecoenzym dan memanfaatkan ecoenzym untuk pembersih, serta berlatih membuat sabun organik.
Pelatihan ecoenzym yang diikuti oleh Sulasih di Pabrik Pakan JAPFA Sragen bertujuan untuk menghasilkan produk dari pengolahan sampah organik berupa sisa buah dan sayuran.
Pada pelatihan tersebut dikenalkan proses fermentasi sederhana untuk membuat ecoenzym yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan sanitasi dan kebersihan.
“Ecoenzym nanti dapat digunakan sebagai pembersih untuk mengurangi bau air dan nyamuk. Selain itu ecoenzym juga dapat digunakan sebagai pembersih untuk mengepel, membersihkan meja makan, dan kebutuhan kebersihan lainnya,” Jelasnya
Ecoezym memiliki cukup banyak manfaat, hanya dengan memproses sisa buah dan sayur dari dapur.
Sulasih juga menjelaskan saat ini dia terpilih untuk mengikuti pelatihan pembuatan ecoprint dengan metode steam. Sebelumnya dia juga telah memperoleh pelatihan dengan metode pounding.
Menurutnya rangkaian kegiatan yang dilakukan JAPFA merupakan satu rangkaian utuh untuk mengelola lingkungan secara berkelanjutan.
Kalau di Bank Sampah kita belajar mengelola sampah anorganik, dengan belajar ecoenzym dan ecoprint kita bisa memanfaatkan untuk mengelola sampah organik.
Seharusnya dengan pengetahuan yang dimiliki saat ini kita tidak hanya bisa mendapatkan manfaat ekonomi, tetapi bisa mengelola sampah di sekitar kita.' Jelasnya
Inisiatif Perempuan JAPFA Nusantara berdampak tidak hanya dalam mengembangkan kegiatan ekonomi dengan memberdayakan perempuan.
Tetapi juga mendorong kelestarian lingkungan dengan pengelolaan sampah berkelanjutan sebagai upaya JAPFA untuk melakukan mitigasi perubahan iklim.
(Red/jk)


