Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement

metrosurakarta
9/09/2025, 9/09/2025 WIB
Last Updated 2025-09-09T14:34:13Z
Budaya

Prosesi Sakral Adang Dhandang Kyai Dudha Di Keraton Surakarta

Advertisement
Tradisi adang dhandang Kyai Dhuda / Foto:Istimewa


BUDAYA-Bertepatan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tahun Jawa Dal 1959 / 2025 M, Keraton Kasunanan Surakarta menggelar tradisi kembul bojana yang di awali dari menanak nasi menggunakan pusaka sakral dhandang Kanjeng Kyai Dudha yang sudah berumur ratusan tahun. (Minggu,7/9)

Tradisi menanak nasi yang di selenggarakan delapan tahun sekali tersebut di lakukan di pawon (dapur) Gondorasan, dapur milik Keraton Kasunanan Surakarta dan di pimpin langsung oleh Sinuhun Paku Buwono XIII di dampingi keluarga, kerabat dan para abdi dalem.

Beras yang sudah matang di masak menggunakan Dhandang Kanjeng Kyai Dudha, selanjutnya di bagi bagikan sebagai symbol kemakmuran dan kebersamaan raja beserta para kawulanya.

Tradisi kembul bojana merupakan symbol kemakmuran Keraton Kasunanan Surakarta, serta wujud rasa syukur bertepatan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Selain menggunakan Dhandang Kanjeng Kyai Dhuda, Keraton Kasunanan juga menyertakan pusaka sacral lainya.

Salam sejarahnya, Kanjeng Kyai Dudha atau periuk penanak nasi tersebut konon merupakan pusaka milik Dewi Nawangwulan dan Jaka Tarub. Setiap hari periuk tersebut di pakai untuk menanak beras oleh Dewi Nawangwulan hanya dengan menggunakan sebutir beras, namun ajaibnya dapat menjadi satu periuk.

Seiring dengan perkembangan waktu dari jaman ke jaman sejak dari Kesultanan Demak, Pajang, selanjutnya ke Mataran Islam, Dhandang Kanjeng Kyai Dhuda terus di jaga sebagai pusaka keraton yang sangat di sakralkan.

Saat terjadi peristiwa geger pecinan di Keraton Kartasura, Dhandang tersebut berhasil di selamatkan oleh abdi dalem Nyai Gandarasa, sejak itu secara turun temurun abdi dalem yang di tunjuk menjaga Kanjeng Kyau Dudha adalah keturunan dari Nyai Gandarasa. 

(red)