Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement

metrosurakarta
10/16/2026, 10/16/2026 WIB
Last Updated 2026-10-16T06:44:07Z
MetrokotaPendidikan

Tiga Putra Daerah Asli Solo Resmi Mengemban Amanah Di IKAL Lemhanas Masa Bakti 2026-2031

Advertisement

 




METROKOTA- Dewan Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (DPP IKAL-Lemhannas) resmi melantik kepengurusan baru masa bakti 2026–2031 di Gedung Dwiwarna Purwa, Lemhannas RI, Jakarta, Kamis (15/10/2026).


Dari sekian banyak pengurus yang di lantik, terdapat tiga figur putra daerah asal Solo masuk dalam kepenurusan IKAL Lemhanas. Ketiganya adalah alumni Training of Trainers (ToT) Lemhannas RI Angkatan 39 yang juga aktif sebagai akademisi di Universitas Dharma AUB (UNDHA AUB) Surakarta.


Mereka adalah Dr. Anggoro Panji Nugroho, M.M. (Ketua Yayasan UNDHA AUB Surakarta) yang mengemban amanah sebagai Dewan Penasihat. Dr. (Cand) Drajat Jati Prakosa, S.E., M.M sebagai Koordinator Wilayah (Korwil) Jawa, dan Indarto Ryan Saputro, S.E.,M.M yang mengemban tugas sebagai Wakil Sekretaris Pusat Sosialisasi dan Literasi Kebangsaan.


Saat ditemui di kampus UNDHA AUB Surakarta, Dr. Anggoro Panji Nugroho menegaskan bahwa amanah baru ini merupakan bentuk pengabdian nyata kepada bangsa dan negara, khususnya dalam mengawal Wawasan Nusantara, Ketahanan Nasional, dan Kewaspadaan Nasional.


"Sebagai alumni Lemhannas RI, kami berkewajiban secara moral maupun langsung untuk menjadi benteng utama menjaga Empat Konsensus Dasar Bangsa yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika," ujar Anggoro.


Alumni Lemhannas kata Dr. Anggoro Panji Nugroho, M.M, senantiasa harus siap memberikan sumbangsih pemikiran strategis dan rekomendasi kebijakan yang komprehensif, integral, dan holistik bagi pemerintah maupun lembaga.


Melakukan analisis mendalam terhadap isu geopolitik, ekonomi, sosial, pertahanan keamanan dan teknologi, guna mengantisipasi potensi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan.


Ia menekankan pentingnya menjaga kemitraan strategis lintas sektor mulai dari TNI, Polri, ASN, akademisi, pengusaha, politisi, hingga tokoh masyarakat guna mendorong pembangunan nasional yang kolaboratif.


Sebagai praktisi pendidikan, Anggoro menyoroti pentingnya pembentukan karakter generasi muda di tengah gempuran budaya dan ideologi asing.


Oleh sebab itu maka perlu menerapkan kembali kurikulum wawasan kebangsaan secara berjenjang, mulai dari PAUD hingga Perguruan Tinggi.


Generasi muda adalah tulang punggung masa depan. Rasa cinta tanah air dan kearifan lokal harus ditanamkan sejak dini agar mental dan kepribadian mereka tidak mudah tergerus.


Senada dengan hal tersebut, Koordinator Wilayah Jawa IKAL Lemhanas Angkatan 39 Dr. (Cand) Drajat Jati Prakosa, S.E., M.M., menyuarakan pentingnya pembentukan kantor perwakilan IKAL Lemhannas di tingkat daerah.


Mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas dan heterogen, keberadaan kantor perwakilan daerah akan mempercepat koordinasi sekaligus pemerataan fungsi ketahanan nasional.

 

"Ketahanan nasional merupakan akumulasi dari ketahanan di tingkat daerah. Keberadaan perwakilan di daerah memungkinkan pengumpulan data geopolitik, geoekonomi, dan geososial secara real time langsung dari lapangan. Ini sangat penting untuk membantu pemerintah daerah menyusun kebijakan yang selaras dengan arah pembangunan nasional serta berbasis kearifan lokal," jelas Drajat.


Sementara itu, Indarto Ryan Saputro, S.E., M.M. selaku Wakil Sekretaris Pusat Sosialisasi dan Literasi Kebangsaan menekankan bahwa, literasi kebangsaan adalah benteng utama masyarakat dalam menghadapi keterbukaan informasi dan pergeseran geopolitik global.


Indarto menilai, keberadaan simpul perwakilan IKAL Lemhannas di daerah akan memangkas hambatan geografis dan pembiayaan dalam menyebarkan pemahaman kebangsaan.


"Program literasi kebangsaan tidak boleh hanya berhenti di elit pusat, tetapi harus menjangkau masyarakat luas hingga ke daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Melalui pendekatan kearifan lokal (local wisdom) dan bahasa budaya setempat, nilai-nilai Pancasila dan Kewaspadaan Nasional akan lebih mudah diterima dan dihayati oleh seluruh elemen masyarakat," pungkasnya/Tok