Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement

metrosurakarta
9/30/2026, 9/30/2026 WIB
Last Updated 2026-09-30T13:56:53Z
MetrokotaTokoh

Hari Kesaktian Pancasila, Dr. Anggoro Panji Nugroho Tegaskan Pentingnya Pengamalan Nyata di Tengah Multi Krisis dan Geopolitik

Advertisement

 

Dr. Anggoro Panji Nugroho, M.M


TOKOH - Peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober tak lepas dari rekam jejak sejarah kelam bangsa Indonesia. Peristiwa pemberontakan G30S/PKI pada tahun 1965 yang merenggut nyawa enam perwira tinggi dan satu perwira menengah TNI Angkatan Darat menjadi catatan paling kelabu sejak republik ini berdiri.


Keberhasilan negara dalam menumpas gerakan tersebut menjadi bukti nyata kesaktian ideologi Pancasila di atas ideologi lainnya.


Namun, di era modernisasi yang diwarnai arus informasi bebas, ancaman radikalisme, hingga krisis geopolitik global, timbul pertanyaan penting: Masih saktikah Pancasila saat ini?


Alumni Lemhannas Angkatan ke-39 sekaligus Ketua Yayasan Karya Dharma Pancasila UNDHA AUB Surakarta, Dr. Anggoro Panji Nugroho, M.M., menegaskan bahwa Pancasila harus tetap teguh berdiri.


Menurutnya, ketahanan ideologi tidak lagi sekadar diuji lewat sejarah masa lalu, melainkan melalui pengamalan nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.

 

Tantangan Krisis Moral dan Penegakan Hukum

Dr. Anggoro menyoroti maraknya krisis multidimensi yang melanda masyarakat, mulai dari ketergerusan moral generasi muda akibat paparan informasi tak tersaring, hingga erosi nilai etika, adab, dan kearifan lokal. Ancaman paham radikal, liberal, dan kapitalis dinilai berpotensi mengikis identitas bangsa Timur.


Selain krisis sosial, ia juga mengkritik kondisi penegakan hukum dan budaya korupsi yang kian memperlebar jurang ketimpangan.


Menurutnya, penegakan hukum seharusnya menjadi panglima utama dalam menjaga ketertiban dan keberagaman. Jika hukum justru tunduk pada kepentingan politik elite semata, tumpang tindih ketatanegaraan serta potensi perpecahan di masyarakat tidak akan dapat dihindari. 


Keteladanan Pemimpin dan Kembalinya Akar Budaya

Sebagai jalan keluar, Dr. Anggoro menekankan pentingnya keteladanan dari para pejabat dan penyelenggara negara. Pemimpin diimbau untuk memegang teguh sumpah jabatan, menjauhi praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

 

Ia mengingatkan bahwa nilai-nilai Pancasila bukanlah hal baru, melainkan warisan luhur Nusantara yang telah dipraktikkan oleh para leluhur jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. Menggali kembali sejarah dan melestarikan kebudayaan lokal merupakan pondasi utama untuk membentengi generasi muda agar tidak kehilangan jati diri di tengah gempuran pengaruh asing.


Oleh sebab itu Hari Kesaktian Pancasila hendaknya dijadikan momentum bersama untuk membangkitkan kesadaran ideologi bukan sekadar seremonial hafalan belaka, melainkan komitmen nyata dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan Bangsa Indonesia. / Tok