Advertisement
Edi, S.M, tokoh muda asal Desa Kwangsan, Panekan, Eromoko, Wonogiri, sekaligus alumni Undha AUB Surakarta
TOKOH- Kesunyian malam dan suara sengkerat jangkrik di Dusun Kwangsan, Desa Panekan, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri setiap malam mengiringi lamunan sosok pemuda yang
lahir jauh dari keramaian dan modernisasi kota.
Tanah gersang, jalan bebatuan kapur, setiap hari mangasah
kedua telapak kakinya untuk melangkah menuju bangku pendidikan dasar hingga
menengah dengan satu harapan, bagaimana ia bisa membangun desa yang gersang dan
kering menjadi desa makmur, kuat, serta mampu menghidupi masyarakatnya sendiri.
Cita cita dan angan angan puluhan tahun silam itu sekarang benar benar terwujud berkat kerja kerasnya selama ini.
Pria desa asal Kwangsan Panekan tersebut berhasil merampungkan studi kuliahnya dengan meraih predikat
terbaik dan menyandang gelar Sarjana Managemen di Universitas Dharma AUB
Surakarta yang di dirikan para pejuang dan di motori oleh M.A Tukidjo Martoatmodjo.
Prestasi dan keberhasilan baginya bukan sekedar
merampungkan pendidikan formal belaka, akan tetapi bagaimana ilmu yang dia
peroleh dapat di implementasikan secara nyata bagi pembangunan desa.
Sosok pria itu adalah Edi, S.M, tokoh muda asal Desa Kuwangsa,
Panekan, Eromoko, Wonogiri yang saat ini tengah mengabdikan diri pada Sekretariat
Jenderal Kementerian Desa dan PDDT.
Desa bagi Edi tidak hanya memiliki banyak potensi sumber
daya alam yang bisa di gali dan di kembangkan di berbagai kebutuhan sektor perekonomian.
Akan tetapi dari sumber daya alam yang ada di desa, berbagai kebutuhan
pangan dapat di wujudkan menjadi swasembada sehingga mampu memperkuat ketahanan
nasional.
‘Desa kuat, Negara juga akan menjadi kuat’, tegasnya
Perwujudan ketahanan desa ujar Edi harus di barengi dengan rasa
keadilan untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteran yang di cita citakan.
Oleh karena itu dalam pengabdianya, Pembangunan desa menjadi
perhatian khusus yang harus di utamakan lewat berbagai program pemberdayaan antara
lain, pemanfaatan teknologi tepat guna, modernisasi pertanian, serta pengelolaan
dan manageman perekonomian tanpa meninggalkan akar kearifan masyarakat.
Melalui motto ‘ Maju Agawe Leburing Angkara, Mureh Luhuring Anak Putu’ ia bertekad pengabdian yang di embanya adalah semangat yang harus di jaga untuk mewujudkan keberhasilan yang ingin di raihnya.
Meski
banyak tantangan dan halangan tetapi dengan niat tulus yang dimiliki ia meyakini, bahwa kebaikan akan
mengalahkan kemungkaran.
Keberhasilan atas capaian tersebut tidak hanya untuk masa
sekarang, akan tetapi yang lebih utama harus di wariskan kepada para anak cucu
di masa mendatang.
Desa menurutnya adalah unit administrasi terkecil sekaligus fondasi paling mendasar dalam struktur negara. Ketahanan nasional tidak dapat dibangun hanya dari pusat kota, melainkan harus berakar kuat pada tingkat desa.
Karena desa merupakan produsen utama bagi komoditas pangan berkaitan dengan pertanian,
perikanan, dan peternakan.
Oleh karenanya kemandirian pangan nasional secara tidak
langsung sangat bergantung pada produktivitas dan keberlanjutan sektor
pertanian yang ada di pedesaan.
Dari sisi ketahanan negara, masyarakat desa secara tidak langsung sebagai "benteng hidup" menjaga kedaulatan Negara Republik Indonesia dari berbagai ancaman.
Desa juga sebagai sentra keseimbangan Ekologi dan Lingkungan,
sebab sebagian besar sumber daya alam, hutan, dan daerah aliran sungai berada
di kawasan pedesaan.
Pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat desa di akuinya juga
sangat vital guna mencegah bencana alam yang dapat melumpuhkan stabilitas
nasional.
Desa juga memelihara nilai nilai kearifan lokal, gotong
royong, dan Pancasila secara implementasi di dalam menjaga keharmonisan sosial
untuk mencegah terjadinya konflik horizontal, radikalisme, dan disintegrasi
bangsa, pungkas Edi, S.M dalam uraianya./ Tok

