Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement

metrosurakarta
9/12/2026, 9/12/2026 WIB
Last Updated 2026-09-12T08:08:25Z
MetrokotaTokoh

Edi, S.M, Pemuda Desa Asal Eromoko Wonogiri Bertekad Jadikan Desa Kuat Sebagai Soko Guru Perekonomian Nasional

Advertisement

 

Edi, S.M, tokoh muda asal Desa Kwangsan, Panekan, Eromoko, Wonogiri, sekaligus alumni Undha AUB Surakarta


TOKOH- Kesunyian malam dan suara sengkerat jangkrik di Dusun Kwangsan, Desa Panekan, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri setiap malam mengiringi lamunan sosok pemuda yang lahir jauh dari keramaian dan modernisasi kota.


Tanah gersang, jalan bebatuan kapur, setiap hari mangasah kedua telapak kakinya untuk melangkah menuju bangku pendidikan dasar hingga menengah dengan satu harapan, bagaimana ia bisa membangun desa yang gersang dan kering menjadi desa makmur, kuat, serta mampu menghidupi masyarakatnya sendiri.


Cita cita dan angan angan puluhan tahun silam itu sekarang benar benar terwujud berkat kerja kerasnya selama ini. 


Pria desa asal Kwangsan Panekan tersebut berhasil merampungkan studi kuliahnya dengan meraih predikat terbaik dan menyandang gelar Sarjana Managemen di Universitas Dharma AUB Surakarta yang di dirikan para pejuang dan di motori oleh M.A Tukidjo Martoatmodjo.

 

Prestasi dan keberhasilan baginya bukan sekedar merampungkan pendidikan formal belaka, akan tetapi bagaimana ilmu yang dia peroleh dapat di implementasikan secara nyata bagi pembangunan desa.

 

Sosok pria itu adalah Edi, S.M, tokoh muda asal Desa Kuwangsa, Panekan, Eromoko, Wonogiri yang saat ini tengah mengabdikan diri pada Sekretariat Jenderal Kementerian Desa dan PDDT.

 

Desa bagi Edi tidak hanya memiliki banyak potensi sumber daya alam yang bisa di gali dan di kembangkan di berbagai kebutuhan sektor perekonomian. Akan tetapi dari sumber daya alam yang ada di desa, berbagai kebutuhan pangan dapat di wujudkan menjadi swasembada sehingga mampu memperkuat ketahanan nasional.

 

‘Desa kuat, Negara juga akan menjadi kuat’, tegasnya

 

Perwujudan ketahanan desa ujar Edi harus di barengi dengan rasa keadilan untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteran yang di cita citakan.

 

Oleh karena itu dalam pengabdianya, Pembangunan desa menjadi perhatian khusus yang harus di utamakan lewat berbagai program pemberdayaan antara lain, pemanfaatan teknologi tepat guna, modernisasi pertanian, serta pengelolaan dan manageman perekonomian tanpa meninggalkan akar kearifan masyarakat.

 

Melalui motto ‘ Maju Agawe Leburing Angkara, Mureh Luhuring Anak Putu’ ia bertekad pengabdian yang di embanya adalah semangat yang harus di jaga untuk mewujudkan keberhasilan yang ingin di raihnya. 


Meski banyak tantangan dan halangan tetapi dengan niat tulus yang dimiliki ia meyakini, bahwa kebaikan akan mengalahkan kemungkaran.


Keberhasilan atas capaian tersebut tidak hanya untuk masa sekarang, akan tetapi yang lebih utama harus di wariskan kepada para anak cucu di masa mendatang.  

 

Desa menurutnya adalah unit administrasi terkecil sekaligus fondasi paling mendasar dalam struktur negara. Ketahanan nasional tidak dapat dibangun hanya dari pusat kota, melainkan harus berakar kuat pada tingkat desa. 


Karena desa merupakan produsen utama bagi komoditas pangan berkaitan dengan pertanian, perikanan, dan peternakan.

 

Oleh karenanya kemandirian pangan nasional secara tidak langsung sangat bergantung pada produktivitas dan keberlanjutan sektor pertanian yang ada di pedesaan.

 

Dari sisi ketahanan negara, masyarakat desa secara tidak langsung sebagai "benteng hidup"  menjaga kedaulatan Negara Republik Indonesia dari berbagai ancaman. 


Desa juga sebagai sentra keseimbangan Ekologi dan Lingkungan, sebab sebagian besar sumber daya alam, hutan, dan daerah aliran sungai berada di kawasan pedesaan.

 

Pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat desa di akuinya juga sangat vital guna mencegah bencana alam yang dapat melumpuhkan stabilitas nasional.

 

Desa juga memelihara nilai nilai kearifan lokal, gotong royong, dan Pancasila secara implementasi di dalam menjaga keharmonisan sosial untuk mencegah terjadinya konflik horizontal, radikalisme, dan disintegrasi bangsa, pungkas Edi, S.M dalam uraianya./ Tok