Advertisement
METROKOTA- Solo sebagai Kota Budaya tentu tak bisa di lepaskan dari sejarah
panjang peradaban yang berakar pada budaya jawa di Nusantara. Akar budaya tersebut
di perkuat dengan adanya dua pewaris dinasti Mataram Islam yaitu, Keraton Kasunanan
Surakarta dan Pura Mangkunegaran yang sampai saat ini masih Lestari di Kota Surakarta.
Selama berabad abad peradaban budaya tersebut berkembang dari
jaman ke jaman tidak hanya adat dan tradisi, tetapi juga mengalami metamorphosis
seni kreasi sejalan dengan perkembangan jaman yang ada.
Kreatifitas seni budaya yang lahir dari pengembangan kebudayaan
tersebut tidak hanya berkembang melalui dunia Pendidikan saja, tetapi juga sanggar
dan entitas kebudayaan yang ada di tengah masyarakat sangat mendorong lahirnya
beragam kreasi seni di Kota Solo.
Oleh karena itu untuk menjaga dan mendorong upaya pelestarian
tersebut, maka di butuhkan sarana dan prasarana sebagai infrastruktur utama
dalam pelestarian, pengembangan sekaligus pemanfaatan kebudayaan.
Demikian di sampaikan oleh ketua Forum Budaya Mataram (FBM).
Dr. BRM. Kusumo Putro, S.H,.M.H menyorot pentingnya sarana dan prasarana Gedung
Kesenian di Kota Solo.
Gedung Kesenian tegas Ketua FBM bukan sekedar fasilitas fisik,
melainkan ruang hidup bagi kebudayaan itu sendiri. Gedung Kesenian tidak hanya
menjadi tempat untuk melahirkan ide dan gagasan, namun juga laboratorium bidang
seni budaya untuk di uji dan di kembangkan.
Walikota Solo sebagai kepala pemerintahan di daerah harus
memahami kultur budaya masyarakat Kota Solo, sekaligus mendukung upaya pemajuan
kebudayaan lewat penyediaan infrastruktur sarana dan prasarana.
Penyedian ruang hidup kesenian akan mendorong lahirnya kreatifitas
masyarakat untuk kepentingan pertunjukan tanpa meninggalkan ciri asli budaya
daerah. Juga studi kesenian seperti penelitian, pemeliharaan, peletarian, pembinaan
dan pengembangan kesenian daerah.
Sekaligus penciptaan lapangan kerja bagi para seniman dan
bahan pembelajaraan dunia Pendidikan.
Sebagai Kota Bisnis, Budaya dan Pariwisata, Solo tidak bisa
lepas dari kultur budaya yang dimilikinya.
Oleh sebab itu Pembangunan Gedung Kesenian tersebut di
harapkan tidak hanya akan mendorong pendapatan asli daerah semakin meningkat, tetapi
juga menggerakan roda perekonomian masyarakat lewat usaha kecil, mikro dan
menengah.
Roda perekenomian akan berputar seiring dengan semakin berkembangnya
sektor pariwisata dan budaya di Kota Solo, ujar Ketua FBM
Kondisi ekonomi saat ini bukan alasan untuk tidak mewujudkan
Gedung Kesenian tersebut.
Pasalnya justru dengan di bangunya Gedung Kesenian akan
memberikan dampak positif bagi roda perekonomian masyarakat, dengan semakin
menggeliatnya event pertunjukan seni budaya di Kota Solo.
Ketua FBM menegaskan, upaya pengembangan dan pelestarian budaya
di Kota Solo tak akan bisa berjalan tanpa adanya sarana dan prasarana.
Meski di akuinya sudah ada gedung kesenian miliki pemerintah propinsi di
Kota Solo, akan tetapi secara umum Pemerintah Kota Solo tidak memiliki Gedung Kesenian
yang secara khusus menjadi ruang hidup masyarakat berkreasi.
Solo The Spirit of Java adalah slogan untuk pemajuan
kebudayaan yang memiliki kedalaman makna jiwa jawa yang berakar pada seni dan Sejarah.
Spirit Of Java juga untuk menumbuhkan semangat pemajuan kebudayaan, sehingga
ironi jika semangat tersebut pudar akibat ketiadaan sarana dan prasarana Gedung
Kesenian.
Pemerintah Kota Solo di harapkan tidak berlaku masa bodoh atas
dorongan masyarakat yang menginginkan lahirnya Gedung Kesenian untuk masyarakat
berkreasi. Sebab tanpa adanya ruang tersebut sulit bagi masyarakat berkreasi dan
mengembangkan seni budaya, pungkasnya/ Djk
