Advertisement
BUDAYA- Peran Keraton Kasunanan Surakarta sebagai pemangku adat budaya
jawa sekaligus penerus Kerajaan Mataram Islam tak lepas dari kepedulian dan
kebersamaan para pewaris pewarisnya.
Oleh karena itu berbagai persoalan yang ada di dalam Keraton
Surakarta hendaknya tidak mengorbankan upaya pelestarian budaya jawa yang ada
di dalamnya.
Berbagai upaya pelestarian yang sudah di lakukan tentu tidak
dapat berjalan secara maksimal, jika di dalam keluarga besar Keraton Surakarta masih
terjadi perpecahan dan perseteruan.
Upaya pelestarian tidak hanya tidak menggali, menjaga dan
mengenalkan adat istiadat budaya jawa kepada masyarakat, namun juga menjaga
keberlangsungan keraton sebagai cagar budaya Nasional. Sehingga atas dasar inilah
maka upaya pelestarian harus melibatkan para pihak, baik pemerintah, lembaga
swasta, tokoh masyarakat hingga para akademisi, pemerhati budaya dan masyarakat.
Terlepas dari berbagai persoalan yang ada selama ini, upaya pelestarian
seharusnya jauh dari konflik internal. Pemerintah sebagai penentu kebijakan
sekaligus penyandang anggaran pelestarian budaya harus bersikap adil, tidak berpihak
pada satu kubu saja.
Sebab jika hal itu tidak di lakukan, maka di sepanjang perjalanan
upaya pelestarian akan berpotensi selalu ada konflik, sekaligus membuat upaya pelestarian
menjadi terhambat. Keraton harus bisa menjaga kewibawaan sebagai pemangku adat punjer
budaya jawa.
Di era media sosial seperti sekarang ini, setiap orang bisa menjadi
pewarta tanpa harus mengklarifikasi informasi yang di terima. Akibatnya,
sekecil apapun konflik yang terekspos
keluar akan menjadi bahan gunjingan dan hujatan para netizen, serta mengikis kewibawaan
keraton Surakarta.
Oleh sebab itu butuh kesadaran untuk membangun kebersamaan.
Butuh kebersamaan untuk menjaga kewibawaan. Butuh kewibawaan untuk menjaga budaya
jawa.
Sikap arogansi para pemangku adat tidak hanya mempermalukan keraton
saja, tetapi masyarakat yang peduli pada budaya jawa juga akan merasa sangat
malu. Apalagi warga kota Solo yang menjunjung tinggi budaya jawa.
Sebab dengan terus berlakunya konflik perseteruan tersebut akan
membuat masyarakat jenuh, bahkan bersikap masa bodoh dengan budaya jawa.
Ini harus kita sadari bersama, karena terjadinya krisis sosial, politik dan moral
yang ada saat ini tak lepas dari semakin jauhnya bangsa Indonesia dari adi
luhung budayanya.
Sementara itu terkait dengan upaya pelestarian budaya jawa,
Ketua Pusat Lembaga Kabudayan Jawi (PLKJ) Undha AUB Surakarta, Dr. Anggoro
Panji Nugroho, M.M mengatakan, pihaknya merasa turut prihatin atas masalah internal yang
berlarut larut di Keraton Kasunanan Surakarta.
Dia menyebut, di setiap masa akan selalu ada persoalan upaya
pelestarian budaya bangsa. Apalagi di era teknologi yang sudah semakin maju
seperti sekarang ini. Bangsa Indonesia harus menjaga dan memperkuat budaya agar
tidak tergerus oleh budaya asing.
Oleh karena itu Tukidjo Martoadmojo selaku pendiri sekaligus
perintis AUB Surakarta (Sekarang UNDHA AUB Surakarta) saat peringatan 23 tahun
usia PLKJ pada tanggal 22 Oktober 1995 pernah menyampaikan, bahwa sebagai
bagian dari masyarakat bangsa Indonesia kami sadar dan berbuat sesuatu, guna
menciptakan dan meningkatkan kesadaran berbudaya jawa untuk memperkokoh budaya
nasional menyongsong era globalisasi. Kita di tuntut lebih keras dalam
Pembangunan bangsa yang bersifat lahir batin, yang akan menentukan nasib bangsa
dan Negara Indonesia, khususnya nasib jutaan masyarakat yang masih hidup di
bawah garis kemiskinan.
Karena hanya bangsa yang berbudaya adi luhung itulah yang
mampu mengatasi persoalanya.
Oleh karena itu pendiri PLKJ memberikan semboyan Kridhaning
Kusuma Bangun Budaya, Pintere Kanggo Memulang, Luhure Kanggo Ngayomi.
Jika di artikan butuh peran aktif para pewaris dan pelestari
budaya dalam membangun bangsa. Menggunakan kelebihan yang dimiliki untuk
mengajar atau menularkan ilmunya, serta menggunakan kekuasaan untuk mengayomi,
jelasnya.
Selama ini kita kerap salah menafsirkan bahwa untuk
memperbaiki kondisi bangsa yang mengalami krisis multi dimensi di butuhkan
politikus handal, tokoh politik dan ekonom. Itu tidak salah, tapi juga perlu
kita akui, bahwa dari merekalah juga system negara ini rusak akibat korupsi dan
mafia di semua lini sehingga terjadi krisis multi dimensi.
Kiprah PLKJ
Dalam kiprahnya PLKJ tidak hanya terus berupaya menjaga
warisan budaya jawa yang bersumber dari Kasunanan, Kasultanan, Mangkunegaran
dan Pakualaman, namun juga memberikan penghargaan kepada para tokoh dan pelestari
budaya jawa.
Banyak tokoh dari berbagai daerah pernah memperoleh
penghargaan pelestari budaya dari PLKJ.
Mereka antara lain para pelestari budaya di daerah dan para tokoh
nasional. Dari mulai pejabat pemerintahan, swasta, pelawak, penari, seniman
hingga para abdi dalem tercatat pernah menerima penghargaan dari PLKJ.
PLKJ di dirikan pada tanggal 10 April 1972 oleh Pusat
Yayasan Dharma Pancasila atas restu para tokoh antara lain Empu KGPH
Hadiwidjojo, R.M Soemoharjomo dan Ki Nartosabdo./ Tok

