Deoxa Indonesian Channels

lisensi

Advertisement

metrosurakarta
6/24/2026, 6/24/2026 WIB
Last Updated 2026-06-24T09:54:10Z
BudayaMetrokota

PLKJ: Hanya Bangsa Berbudaya Adi Luhung-lah Yang Bisa Mengatasi Persoalanya

Advertisement

 

Ketua PLKJ UNDHA AUB Surakarta, Dr. Anggoro Panji Nugroho, M.M


BUDAYA- Peran Keraton Kasunanan Surakarta sebagai pemangku adat budaya jawa sekaligus penerus Kerajaan Mataram Islam tak lepas dari kepedulian dan kebersamaan para pewaris pewarisnya.


Oleh karena itu berbagai persoalan yang ada di dalam Keraton Surakarta hendaknya tidak mengorbankan upaya pelestarian budaya jawa yang ada di dalamnya.


Berbagai upaya pelestarian yang sudah di lakukan tentu tidak dapat berjalan secara maksimal, jika di dalam keluarga besar Keraton Surakarta masih terjadi perpecahan dan perseteruan.


Manuskrip arsip PLKJ


Upaya pelestarian tidak hanya tidak menggali, menjaga dan mengenalkan adat istiadat budaya jawa kepada masyarakat, namun juga menjaga keberlangsungan keraton sebagai cagar budaya Nasional. Sehingga atas dasar inilah maka upaya pelestarian harus melibatkan para pihak, baik pemerintah, lembaga swasta, tokoh masyarakat hingga para akademisi, pemerhati budaya dan masyarakat.


Terlepas dari berbagai persoalan yang ada selama ini, upaya pelestarian seharusnya jauh dari konflik internal. Pemerintah sebagai penentu kebijakan sekaligus penyandang anggaran pelestarian budaya harus bersikap adil, tidak berpihak pada satu kubu saja.


Sebab jika hal itu tidak di lakukan, maka di sepanjang perjalanan upaya pelestarian akan berpotensi selalu ada konflik, sekaligus membuat upaya pelestarian menjadi terhambat. Keraton harus bisa menjaga kewibawaan sebagai pemangku adat punjer budaya jawa.


Di era media sosial seperti sekarang ini, setiap orang bisa menjadi pewarta tanpa harus mengklarifikasi informasi yang di terima. Akibatnya, sekecil apapun konflik yang  terekspos keluar akan menjadi bahan gunjingan dan hujatan para netizen, serta mengikis kewibawaan keraton Surakarta.  


Oleh sebab itu butuh kesadaran untuk membangun kebersamaan. Butuh kebersamaan untuk menjaga kewibawaan. Butuh kewibawaan untuk menjaga budaya jawa.


Sikap arogansi para pemangku adat tidak hanya mempermalukan keraton saja, tetapi masyarakat yang peduli pada budaya jawa juga akan merasa sangat malu. Apalagi warga kota Solo yang menjunjung tinggi budaya jawa.


Sebab dengan terus berlakunya konflik perseteruan tersebut akan membuat masyarakat jenuh, bahkan bersikap masa bodoh dengan budaya jawa.


Ini harus kita sadari bersama,  karena terjadinya krisis sosial, politik dan moral yang ada saat ini tak lepas dari semakin jauhnya bangsa Indonesia dari adi luhung budayanya.


Sementara itu terkait dengan upaya pelestarian budaya jawa, Ketua Pusat Lembaga Kabudayan Jawi (PLKJ) Undha AUB Surakarta, Dr. Anggoro Panji Nugroho, M.M mengatakan, pihaknya  merasa turut prihatin atas masalah internal yang berlarut larut di Keraton Kasunanan Surakarta.


Dia menyebut, di setiap masa akan selalu ada persoalan upaya pelestarian budaya bangsa. Apalagi di era teknologi yang sudah semakin maju seperti sekarang ini. Bangsa Indonesia harus menjaga dan memperkuat budaya agar tidak tergerus oleh budaya asing.


Oleh karena itu Tukidjo Martoadmojo selaku pendiri sekaligus perintis AUB Surakarta (Sekarang UNDHA AUB Surakarta) saat peringatan 23 tahun usia PLKJ pada tanggal 22 Oktober 1995 pernah menyampaikan, bahwa sebagai bagian dari masyarakat bangsa Indonesia kami sadar dan berbuat sesuatu, guna menciptakan dan meningkatkan kesadaran berbudaya jawa untuk memperkokoh budaya nasional menyongsong era globalisasi. Kita di tuntut lebih keras dalam Pembangunan bangsa yang bersifat lahir batin, yang akan menentukan nasib bangsa dan Negara Indonesia, khususnya nasib jutaan masyarakat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.


Karena hanya bangsa yang berbudaya adi luhung itulah yang mampu mengatasi persoalanya.


Oleh karena itu pendiri PLKJ memberikan semboyan Kridhaning Kusuma Bangun Budaya, Pintere Kanggo Memulang, Luhure Kanggo Ngayomi.


Jika di artikan butuh peran aktif para pewaris dan pelestari budaya dalam membangun bangsa. Menggunakan kelebihan yang dimiliki untuk mengajar atau menularkan ilmunya, serta menggunakan kekuasaan untuk mengayomi, jelasnya.   


Selama ini kita kerap salah menafsirkan bahwa untuk memperbaiki kondisi bangsa yang mengalami krisis multi dimensi di butuhkan politikus handal, tokoh politik dan ekonom. Itu tidak salah, tapi juga perlu kita akui, bahwa dari merekalah juga system negara ini rusak akibat korupsi dan mafia di semua lini sehingga terjadi krisis multi dimensi.

 

Kiprah PLKJ

Dalam kiprahnya PLKJ tidak hanya terus berupaya menjaga warisan budaya jawa yang bersumber dari Kasunanan, Kasultanan, Mangkunegaran dan Pakualaman, namun juga memberikan penghargaan kepada para tokoh dan pelestari budaya jawa.


Banyak tokoh dari berbagai daerah pernah memperoleh penghargaan pelestari budaya dari PLKJ.


Mereka antara lain para pelestari budaya di daerah dan para tokoh nasional. Dari mulai pejabat pemerintahan, swasta, pelawak, penari, seniman hingga para abdi dalem tercatat pernah menerima penghargaan dari PLKJ.


PLKJ di dirikan pada tanggal 10 April 1972 oleh Pusat Yayasan Dharma Pancasila atas restu para tokoh antara lain Empu KGPH Hadiwidjojo, R.M Soemoharjomo dan Ki Nartosabdo./ Tok