Advertisement
METROKOTA-Perseteruan di Keraton Kasunanan Surakarta antara kubu Panembahan
Agung Tedjowulan yang di dukung oleh Lembaga Dewan Adat (LDA) dengan kubu PB
XIV Purbaya terus meruncing.
Perselisihan tersebut tidak hanya pada suksesi dan
kewenangan di dalam melakukan pengelolaan dan revitalisasi Keraton Surakarta
sebagai cagar budaya nasional, tetapi juga merambah pada kegiatan acara adat
hajad dalem seperti halnya acara grebeg besar yang akan di selenggarakan nanti
pada peringatan Hari Raya Idul Adha.
Kubu PB XIV Purbaya berencana mengelar grebeg besar pada
tanggal 27 Mei, sedangkan kubu PA Tedjowulan dan LDA akan menggelar tanggal 28
Mei 2026 atau selisih satu hari.
Masing masing kubu memiliki alasan sendiri sendiri.
Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Purbaya, GKRP Timoer Rumbay
Kusuma Dewayani, mempertanyakan dasar pelaksanaan grebeg yang di lakukan oleh
kubu Tedjowulan. Menurutnya acara grebeg merupakan agenda kraton atas dawuh dalem
atau perintah raja.
‘Dawuh dalem itu dari raja. Makanya saya bingung Gusti Tedjo
bikin itu terus rajanya siapa. Kan Gusti Tedjo bukan raja,” ujar dia seperti di
lansir dari laman Tribun Solo.
Sedangkan dari kubu PA Tedjowulan beralasan, sebaiknya
grebeg besar hanya di gelar sekali untuk menjaga kerukunan di dalam internal
Keraton.
Sementara itu terkait dengan alasan yang di sampaikan oleh kubu
PA Tedjowulan tersebut, GKRP Timoer menegaskan posisi Panembahan Agung
Tedjowulan sebagai pelaksana revitalisasi dan pelestarian budaya, tidak
berkaitan dengan persoalan suksesi tahta Keraton Kasunanan Surakarta.
Surat keputusan atau SK yang diterima KGPHPA Tedjowulan sebut
dia, tidak dapat diartikan sebagai legitimasi pergantian raja.
Bahkan menterinya bicara juga SK itu tidak menyentuh
suksesi,” Pungkasnya. /red