Advertisement
BUDAYA-Memasuki bulan suci Ramadhan banyak tradisi bernafaskan Islam di
gelar masyarakat muslim di berbagai negara
di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Banyak tradisi di gelar saat memasuki
bulan penuh makna kesucian ramadhan, sekaligus merasakan nikmat kebesaran Allah SWT di bulan yang penuh berkah
dan Rahmat.
Dari sekian banyak tradisi yang ada, terdapat satu tradisi unik di
lakukan masyarakat Banjar yang menetap di Kota Solo pada saat bulan Ramadhan yakni
membuat bubur sop di Masjid Darusalam, Jayengan Solo.
“ Tradisi membuat Bubur Sop di Masjid Darussalam di mulai sekitar
tahun 70an’ Ujar Subadi, warga Jayengan yang bertugas sebagai juru masak Bubur
Sop.
Pada tahun tersebut imbuh Subadi, banyak warga dari Banjar Kalimantan
Selatan merantau ke Solo. Mereka berprofesi sebagai pedagang intan dan berlian.
Alasanya mereka merantau di kota Solo, karena tahun 70an perdagangan permata di
anggap sangat menjanjikan sekali.
Untuk itu banyak warga pendatang dari Banjar mencoba mengais
rejeki berjualan permata. Mereka menatap tak jauh dari pasar Klewer yang kala
itu menjadi pusat perdagangan emas dan permata. Salah satu tempat pemukiman warga
dari Banjar tersebut adalah kampung Jayengan.
Dari awalnya mengontrak, lama lama akhirnya menetap dan bertempat
tinggal, bahkan banyak juga warga perantauan memiliki istri atau suami warga asli
Solo. Salah satu kebiasaan yang di bawa oleh warga Banjar di Solo yaitu membuat
bubur sop saat bulan Ramadhan untuk buka puasa bersama sekaligus sarana silaturahmi
bagi warga.
Bahan baku bubur sop jelas Subadi, di buat dari rempah rempah asli
Nusantara dengan bahan baku pokoknya beras.
Bubur sop berbeda dengan bubur pada umumnya. Karena bumbu dan
bahan baku yang di pakai lebih lengkap, juga memiliki khasiat menjaga daya
tahan tubuh. Semua itu di karenakan bahan baku rempah yang di pakai untuk
membuat bubur sop.
Rempah rempah tersebut antara lain Jinten, temulawak, adas, serai,
bawang Bombay, wortel dan berbagai bumbu dapur lainya.
.
Setiap kali memasak Bubur Sop di butuhkan sekitar 45kg beras. Untuk itulah mengaduk menjadi
pekerjaan paling berat yang harus di lakukan. Proses mengaduk di lakukan kurang
lebih selama 3 jam agar bubur tidak gosong.
Setelah masak barulah bubur di bagikan kepada warga Masyarakat untuk
berbuka puasa bersama. (Tok)