Advertisement
METROKOTA- Perkembangan media massa di tanah air tentu tak bisa di lepaskan dari Kota Solo yang di kenal sebagai kota budaya, sekaligus kota perintis perkembangan pers di tanah air.
Berdirinya
monument pers serta jatuh bangunya industry pers di kota Solo sejak dari jaman kolonial
hingga republic, semakin meneguhkan Solo sebagai kota media massa di tanah air.
Apalagi
jika menilik sejarah perkembangan media yang ada, banyak tokoh para pejuang
berusaha membangun industry pers di Kota Solo untuk melawan penjajah dan
pembodohan masyarakat.
Salah
satunya adalah koran Dharma Kanda yang di terbitkan pertama kali pada tanggal
15 Oktober 1969, oleh Tukidjo Martoadtmodjo lewat Yayasan Dharma Pancasila.
Koran yang
di kemas dengan gaya tulisan berbahasa jawa tersebut pada masa kejayaanya
menjadi koran terfavorit di tengah masyarakat.
Di cetak hanya
empat halaman memakai template monochrome atau hitam putih, Koran Dharma Kanda mengedepankan
kabar berita seputar Surakarta, serta kabar dunia pendidikan dan berita ringan
yang mudah di pahami oleh masyarakat.
Apalagi di
awal tahun 70an media massa menjadi bagian dari hiburan dan bacaan masyarakat
yang sangat menarik.
Ironisnya
keberlanjutan koran Dharma Kanda saat ini sudah tidak ada, tidak di kembangkan
lagi melalui media online untuk kembali mengulang kejayaan koran bahasa jawa
yang pernah ada di Kota Solo.
Padahal
jika menilik perkembangan dunia literasi saat ini, bahasa jawa sudah jauh dan tidak
di kenal lagi oleh para generasi muda. Jika hal itu terus berlangsung maka generasi muda tak lagi
memiliki jiwa kejawaanya yang menjunjung tinggi budi pekerti serta adi luhung
budaya jawa.
Sementara
itu menurut generasi ke 3 pendiri koran Dharma Kanda yang sekarang meneruskan
perjuangan Tukijo Martoatmodjo melalui dunia Pendidikan, Dr. Anggoro Panji
Nugroho, M.M di katakan, koran Dharma Kanda bukan sekedar menyajikan informasi
dan literasi, namun juga berupaya menjaga pelestarian bahasa Jawa dan budaya
yang ada di dalamnya.
Pendiri
memahami, bahwa bahasa adalah salah satu karakter yang harus di jaga.
Selain itu
melalui penggunaan Bahasa jawa, para generasi muda di harapkan tidak kehilangan
jati diri. Sebab bahasa adalah cermin kepribadian yang akan membentuk karakter
dan sopan santun, sejalan dengan nilai nilai yang ada di dalamnya.
(Tok)
